NASA Kembangkan AI untuk Deteksi Ledakan Alga Berbahaya
Para ilmuwan NASA mengembangkan alat kecerdasan buatan (AI) terbaru untuk mendeteksi ledakan alga berbahaya di wilayah Florida Barat dan California Selatan.
Teknologi ini dirancang untuk memitigasi risiko kesehatan serius serta menekan kerugian ekonomi pesisir Amerika Serikat yang mencapai puluhan juta dolar setiap tahunnya.
>>> Euphoria Resmi Tamat setelah Tiga Musim
Dua Jenis Alga Berbahaya
Fenomena ledakan alga di Florida sering kali disebabkan oleh spesies Karenia brevis yang berdampak fatal bagi satwa liar dan menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia.
Sementara itu, di Pantai Barat, alga jenis Pseudo-nitzschia dilaporkan telah meracuni ratusan lumba-lumba dan singa laut.
Racun dari alga ini bahkan dapat menguap ke udara dan memicu penyakit pernapasan pada penduduk sekitar.
Selama ini, pemantauan alga dilakukan secara manual menggunakan perahu dengan proses laboratorium yang memakan waktu berhari-hari. Hal ini membuat prediksi lokasi ledakan alga sulit dilakukan sebelum menyebar luas.
Kehadiran teknologi AI NASA berfungsi menyatukan berbagai kumpulan data satelit agar komunitas lokal dapat merespons lebih cepat.
"Paling tidak, alat seperti ini dapat membantu kita mengetahui di mana dan kapan harus mengumpulkan sampel air saat ledakan alga baru dimulai," ujar Michelle Gierach, ilmuwan Jet Propulsion Laboratory NASA di California Selatan.
>>> NVIDIA Luncurkan RTX Spark, Prosesor Windows on Arm Pertama
Meskipun satelit NASA mampu menangkap indikasi alga melalui ukuran, pigmen, hingga pancaran cahaya merah saat fotosintesis, tantangan utama terletak pada volume data mentah yang sangat masif.
Untuk mengatasinya, tim peneliti mengembangkan sistem self-supervised machine learning yang mampu mempelajari pola dari berbagai satelit tanpa perlu pelabelan manual.
Uji coba menggunakan data tahun 2018 dan 2019 menunjukkan hasil yang akurat. AI ini berhasil memetakan spesies spesifik seperti K.
brevis, bahkan di perairan pesisir yang kompleks dan keruh akibat sedimen.
Nadya Vinogradova Shiffer, kepala ilmuwan program di Markas Besar NASA, menyebut teknologi ini sebagai alat ampuh untuk menghasilkan kecerdasan laut yang dapat ditindaklanjuti.
>>> Claude vs ChatGPT: Mana yang Lebih Unggul untuk Kebutuhan Anda?
Saat ini, tim NASA terus menyempurnakan alat tersebut dengan mengintegrasikan lebih banyak data garis pantai dan memperluas pengujian ke area danau agar dapat segera diimplementasikan oleh para pengambil kebijakan.
Update Terbaru
ASUS Luncurkan Mini PC ROG NUC 16 Edition 20 dengan RTX 5090
Selasa / 02-06-2026, 21:20 WIB
Dewi Perssik Kuliah S1 Psikologi, Rela Pakai Jubah Demi Fokus Belajar
Selasa / 02-06-2026, 21:19 WIB
Rupiah Lemah, Harga Susu Impor Naik: Pemerintah Siapkan Solusi 2026
Selasa / 02-06-2026, 21:19 WIB
Infinix HOT 70 Hadir dengan Baterai 6000 mAh dan Sertifikasi Tahan Banting
Selasa / 02-06-2026, 21:17 WIB
Kia Cetak Rekor Penjualan Bulanan Tertinggi Sepanjang Masa Berkat Lonjakan Hybrid 179%
Selasa / 02-06-2026, 21:17 WIB
NASA Matangkan Rencana Bangun Reaktor Nuklir di Permukaan Bulan
Selasa / 02-06-2026, 21:17 WIB
Chelsea Resmi Luncurkan Jersey Kandang Baru Musim 2026/2027
Selasa / 02-06-2026, 21:16 WIB
Isu Delisting Bank Danamon (BDMN) Mencuat, Manajemen dan OJK Beri Klarifikasi
Selasa / 02-06-2026, 21:16 WIB
5 Ide Bisnis Anime 2026 Paling Menjanjikan, Cuan Mengalir Tanpa Ribet
Selasa / 02-06-2026, 21:16 WIB
Kemenkeu Tegaskan Dana Bantuan Pensiunan 2026 Hoaks, Waspada Modus Phishing Terbaru
Selasa / 02-06-2026, 21:16 WIB
Dragonica Origin Chapter 4 Rilis 22 April 2026, Update Terbaru yang Paling Dicari Gamers!
Selasa / 02-06-2026, 21:16 WIB
Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S. Deyang Gantikan
Selasa / 02-06-2026, 21:16 WIB
Liverpool Sepakati Kontrak Andoni Iraola Gantikan Arne Slot
Selasa / 02-06-2026, 21:14 WIB
Profil Nanik S Deyang, Kepala BGN Baru Pengganti Dadan Hindayana yang Resmi Dilantik 2026
Selasa / 02-06-2026, 21:14 WIB






