Transisi Menuju Kecerdasan Super (ASI)

Manifesto "Situational Awareness" membantah anggapan bahwa inovasi teknologi akan melambat setelah target AGI tercapai. Kehadiran AGI justru menjadi fase pembuka bagi ledakan kecerdasan yang lebih radikal.

Model pintar yang tercipta tahun depan tidak hanya ditugaskan menyusun teks atau aplikasi dasar. Agen pintar tersebut akan langsung difokuskan untuk meneliti dan mengembangkan AI itu sendiri.

Skenario ini melibatkan jutaan peneliti digital berbasis AI yang bekerja paralel tanpa henti.

Sistem ini mampu memproses ribuan jurnal ilmiah dalam hitungan milidetik untuk merancang arsitektur algoritma generasi berikutnya.

>>> ChatGPT dan Gemini Bantu Peretas Iran Tingkatkan Serangan Siber

Proses riset yang biasanya membutuhkan satu dekade bagi insinyur manusia diproyeksikan tuntas dalam hitungan minggu oleh agen AGI.

Lompatan ini akan mempercepat transisi dari AGI menuju ASI yang diprediksi memuncak sekitar 2030.

Kebutuhan Infrastruktur dan Krisis Energi

Operasionalisasi sistem kecerdasan super membutuhkan infrastruktur fisik masif. Korporasi teknologi seperti Microsoft, Google, Amazon Web Services, dan Nvidia kini bersiap membangun fasilitas komputasi skala militer.

Biaya pelatihan model mutakhir saat ini berkisar di angka 1 miliar dolar AS.

Aschenbrenner memproyeksikan data center senilai 100 miliar dolar AS pada 2026 atau 2027, dan akan menyentuh 1 triliun dolar AS pada akhir dekade.

Fasilitas raksasa berkapasitas jutaan GPU diperkirakan menyedot daya listrik hingga puluhan gigawatt. Jumlah ini setara dengan seperlima total produksi energi nasional Amerika Serikat.

Keterbatasan pasokan listrik konvensional memicu disrupsi energi yang mulai terlihat pada 2026. Situasi ini memaksa raksasa teknologi mengalihkan investasi ke sektor reaktor nuklir baru.

Ancaman Spionase Siber dan Regulasi Keamanan