Potensi Kawasan Eks Pabrik Gula Colomadu

Kawasan eks Pabrik Gula Colomadu terus menjadi sorotan. Bangunan bersejarah itu dinilai memiliki peluang besar menjadi pusat kegiatan ekonomi baru yang modern.

Ada minat dari investor besar yang ingin menyewa dan mengelola seluruh kawasan secara utuh. Namun, kendala teknis muncul karena beberapa bagian bangunan sudah disewa pihak lain per blok.

Gagasan pengembangan mencakup sentra kuliner dan aktivitas ekonomi malam hari yang tertata. Kawasan ini diharapkan menjadi magnet baru bagi masyarakat yang berkunjung ke Colomadu.

Optimalisasi lahan eks pabrik gula diharapkan mampu menghidupkan ekosistem ekonomi lokal secara berkelanjutan. Sriono membayangkan kawasan ini bisa menjadi pusat aktivitas yang selalu hidup.

Pesatnya Pembangunan di Jalan Adi Sucipto

Perkembangan paling signifikan terlihat di sepanjang Jalan Adi Sucipto. Kawasan ini telah berubah menjadi koridor bisnis utama dengan deretan restoran, kafe, penginapan, dan toko ritel modern.

>>> Saham Janjikan Cuan Melimpah di 2026? Simak Tips Aman Trader Profesional

Pembangunan komersial ini berdampak langsung pada nilai tanah yang mengalami kenaikan tajam. Sebagai kawasan penyangga Kota Solo, harga properti di Colomadu terus meroket setiap tahun.

Beberapa tahun lalu, estimasi harga tanah per meter persegi berkisar Rp10 juta hingga Rp13 juta. Pada tahun 2026, harganya mencapai Rp15 juta hingga Rp17 juta per meter persegi.

Kenaikan harga tanah hingga Rp17 juta per meter menunjukkan tingginya minat pasar terhadap wilayah ini. Colomadu dinilai memiliki nilai investasi yang menjanjikan bagi pelaku usaha maupun pencari hunian.

Selain letak geografis yang berbatasan langsung dengan Solo, aksesibilitas menjadi alasan utama investor melirik Colomadu. Wilayah ini memiliki koneksi baik menuju pusat pendidikan, area bisnis, hingga bandara.