IFAB juga memperluas kewenangan sistem Video Assistant Referee (VAR) untuk meninjau pelanggaran pra-eksekusi. Langkah ini diambil untuk mempercepat implementasi aturan guna menekan kontroversi duel fisik dan tarik-menarik pemain.

Dukungan IFAB didasari oleh banyaknya keluhan terkait kontak fisik yang disengaja untuk membuka ruang saat situasi bola mati.

Pertemuan khusus IFAB menyepakati bahwa intervensi teknologi sangat diperlukan untuk mendeteksi pelanggaran sebelum bola bergulir.

>>> Daihatsu Kumpul Sahabat 2026 Digelar Serentak, Hadiah Utama Ayla Modifikasi Langka

Mekanisme Peninjauan VAR dalam Aturan Baru

Kasus serupa pernah memicu perdebatan di Liga Inggris saat gol penyama kedudukan West Ham United ke gawang Arsenal dibatalkan.

Keputusan tersebut diambil karena adanya pelanggaran terhadap penjaga gawang Arsenal, David Raya, yang menghambat pergerakannya.

Melalui perubahan aturan ini, Collina menginstruksikan para pengadil lapangan untuk lebih waspada dalam memantau pergerakan pemain.

Fokus utama wasit adalah mendeteksi pola blok atau duel fisik yang direncanakan untuk menciptakan celah saat tendangan sudut maupun bebas.

Berikut ringkasan teknis penerapan aturan pembatalan gol:

  • Pelanggaran jelas oleh penyerang sebelum bola dimainkan: VAR merekomendasikan peninjauan ulang di pinggir lapangan (OFR), gol dapat dibatalkan secara resmi oleh wasit.
  • Dampak langsung pada gol, penalti, atau disiplin pemain: wasit melakukan verifikasi melalui monitor di area teknis, situasi bola mati akan diulang sesuai keputusan awal.

Prosedur baru ini diharapkan meminimalisir kesalahan manusia yang sering menjadi subjek protes para pelatih dan pemain.

Larangan Taktik Mengulur Waktu melalui Cedera

Selain fokus pada pelanggaran bola mati, FIFA juga menaruh perhatian pada taktik memanipulasi cedera pemain.

Strategi ini sering digunakan untuk merusak momentum lawan atau memberikan waktu bagi pelatih untuk memberikan instruksi tambahan.

Collina menjelaskan bahwa isu ini telah menjadi topik bahasan dalam lokakarya khusus yang dihadiri oleh pelatih dari 48 negara peserta.

FIFA bertekad untuk menghapus celah yang memungkinkan tim mengambil keuntungan tidak adil melalui skenario cedera yang dibuat-buat.

Meskipun belum disertai sanksi kartu secara langsung, wasit di Piala Dunia 2026 akan bertindak lebih proaktif.

Para pengadil memiliki wewenang untuk mencegah pemain menemui pelatih saat rekan setimnya sedang menerima perawatan medis di lapangan.

Dengan regulasi yang lebih ketat ini, FIFA berharap kualitas pertandingan di Piala Dunia 2026 akan meningkat.

>>> Dana KJP Plus Tahap I Februari 2026 Mulai Cair 2 April

Langkah ini juga menjadi standar baru bagi federasi sepak bola di seluruh dunia dalam mengelola sportivitas dan transparansi di atas lapangan.