Sepak bola telah lama menjadi instrumen diplomasi yang ampuh. Momen bersejarah di Port Elizabeth pada Piala Dunia 2010 menjadi bukti nyata.

Saat itu, penyerang Korea Utara Jong Tae-se menangis saat lagu kebangsaan berkumandang. Media Inggris menjulukinya "The People's Rooney" karena gaya bermainnya yang mirip Wayne Rooney.

>>> Kejutan! John Herdman Coret Sejumlah Pemain Senior Timnas Indonesia untuk FIFA Matchday Juni 2026

Jong lahir dan besar di Jepang sebagai keturunan Zainichi. Ibunya berafiliasi dengan organisasi pro-Pyongyang, Chongryon, sementara ayahnya berasal dari Korea Selatan.

Ia memegang paspor Korea Utara.

Karier Jong Tae-se di Eropa

Penampilan Jong di Piala Dunia 2010 membuka pintu ke Eropa. Ia memulai karier di Jerman bersama VfL Bochum, lalu bergabung dengan 1.

FC Köln pada Januari 2012.

Kedatangannya di Köln untuk mengisi posisi penyerang yang ditinggalkan Lukas Podolski akibat cedera. Meski menit bermain terbatas, kehadirannya memiliki makna simbolis besar.

Bagi publik internasional, Jong membuktikan bahwa warga Korea Utara bisa bersaing di level tertinggi. Ia mendobrak stigma negatif terhadap negara yang tertutup itu.

Jong bukan satu-satunya pemain Korea Utara yang berkarier di luar negeri. Hong Yong-Jo bermain di Rusia, sementara Pak Kwang-Ryong dan Cha Jong-Hyok di Swiss.

Pada awal 2013, Jong membuat langkah berani dengan bergabung ke Suwon Samsung Bluewings di Korea Selatan. Langkah ini sangat kontroversial mengingat ketegangan kedua negara.

Undang-Undang Keamanan Nasional Korea Selatan melarang interaksi antarwarga dari dua negara yang berkonflik. Namun, otoritas sepak bola Korea Selatan mendaftarkan Jong sebagai pemain domestik demi kelancaran kompetisi.

Udo Merkel, akademisi dari University of Brighton, menilai pertukaran atlet semacam ini sangat krusial. Olahraga menjaga isu reunifikasi tetap hidup di kesadaran publik.