Pancasila dan Nasionalisme Ekonomi: Strategi Perkuat Rupiah 2026
Di tengah tren global yang kembali mengedepankan nasionalisme ekonomi, Indonesia memiliki landasan kuat yang telah diletakkan para pendiri bangsa sejak delapan dekade silam.
Mohammad Hatta menegaskan bahwa nasionalisme ekonomi sejati bukanlah kapitalisme nasional, melainkan ekonomi yang berakar pada kekuatan rakyat banyak.
>>> Jaecoo Siapkan Mobil NEV Baru Meluncur di 2026, Speknya Dinanti
Pesan itu kini semakin relevan di tengah perang dagang, persaingan geopolitik, dan disrupsi teknologi.
Jalan Tengah Pancasila
Fokus utama bukan lagi sekadar angka pertumbuhan, melainkan siapa yang menikmati hasilnya.
Pancasila, yang sering dipandang sebagai ideologi politik, sejatinya juga fondasi ekonomi nasional.
Setiap sila, dari Ketuhanan hingga Keadilan Sosial, mengatur pengelolaan kekayaan dan distribusi hasil pembangunan.
Nasionalisme ekonomi berbasis Pancasila tidak anti-asing atau anti-investasi.
Konsep ini menekankan bahwa keterbukaan harus memberi manfaat optimal bagi rakyat.
Investasi asing diterima jika memperkuat kapasitas nasional, dan perdagangan luar negeri didorong selama meningkatkan daya saing industri dalam negeri.
Pancasila menawarkan jalan tengah antara liberalisme yang memicu ketimpangan dan proteksionisme sempit.
Negara bertanggung jawab menjamin keadilan dan kesejahteraan bersama, sebagaimana diamanatkan Pasal 33 UUD 1945.
Hilirisasi: Nilai Tambah dari Komoditas
Manifestasi konkret nasionalisme ekonomi adalah kemampuan menciptakan nilai tambah secara mandiri.
Selama puluhan tahun, Indonesia hanya mengekspor bahan mentah seperti nikel, batu bara, tembaga, dan minyak sawit.
Keuntungan besar justru ada pada pengolahan, inovasi, dan penguasaan rantai pasok global.
Agenda hilirisasi pemerintah saat ini adalah langkah tepat yang berakar pada semangat Pancasila.
Targetnya bukan hanya meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga membuka lapangan kerja dan transfer teknologi.
Indonesia harus melangkah ke industrialisasi berbasis riset dan teknologi tinggi agar menjadi pemain kunci dalam rantai nilai global.
Update Terbaru
Trump Buka Dokumen Intelijen soal Kerentanan Pemilu AS
Jumat / 17-07-2026, 09:17 WIB
Napalm Death Guncang NPR Tiny Desk dengan Set Paling Brutal
Jumat / 17-07-2026, 09:15 WIB
Fosil T-Rex 'Gus' Terjual Rekor Rp900 M di Lelang
Jumat / 17-07-2026, 09:14 WIB
KKP Rilis Skema BBM Khusus Rp15.000 per Liter untuk Kapal Perikanan 30-200 GT
Jumat / 17-07-2026, 09:14 WIB
Sidang Dokter Tifa Memanas, JPU Dituding Sembunyikan 26 BAP Krusial
Jumat / 17-07-2026, 09:14 WIB
Basuki Minta Tambahan Rp2,7 Triliun untuk IKN, Menkeu Tunggu Arahan Prabowo
Jumat / 17-07-2026, 09:14 WIB
Dokter Tifa: Ada Pihak yang Ketakutan di Kasus Ijazah Jokowi
Jumat / 17-07-2026, 09:14 WIB
Alasan Stephen Chow Pilih Dilraba Dilmurat di Kung Fu Soccer Terungkap
Jumat / 17-07-2026, 09:14 WIB
Hilary Duff Bongkar Treatment Ekstrem: Botox hingga Facial Sperma Salmon
Jumat / 17-07-2026, 09:13 WIB
Gaya Amora Lemos Anak KD Kembali Masuk Sekolah, Pakai Tas Rp 7 Jutaan
Jumat / 17-07-2026, 09:12 WIB
Mitsubishi Resmi Luncurkan Xforce Hybrid, Harga Mulai Rp445 Juta
Jumat / 17-07-2026, 09:12 WIB
Jim Parsons Ungkap Tekanan Berat di Balik Kesuksesan The Big Bang Theory
Jumat / 17-07-2026, 09:08 WIB
Apple TV+ Tambah Michelle Buteau dan Simu Liu ke Komedi Elizabeth Banks
Jumat / 17-07-2026, 09:07 WIB
Christopher Nolan Bawa Konsep Troy 20 Tahun Lalu ke Film The Odyssey
Jumat / 17-07-2026, 09:07 WIB







