Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meluncurkan inisiatif nasional untuk mencegah kekerasan di lingkungan pendidikan keagamaan. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya laporan kasus kekerasan seksual di pesantren.

Melalui Satuan Anti Kekerasan (Saka) Pesantren, PBNU menggelar rangkaian roadshow bertajuk Gerakan Nasional Pesantrenku Aman Ramah Anak. Program ini menyasar institusi pendidikan di empat provinsi besar di Indonesia.

>>> Panduan Lengkap Wisata Jatim Park 1: Cek Harga Tiket dan Wahana Terbaru 2026

Roadshow Perdana di Pasuruan

Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menjadi lokasi pembuka rangkaian gerakan perlindungan anak ini. Kegiatan perdana dipusatkan di Pondok Pesantren Al Yasini dengan melibatkan berbagai elemen di lingkungan pesantren.

Ketua Saka Pesantren PBNU, Alissa Wahid, menjelaskan bahwa agenda di Pasuruan mencakup sosialisasi dan konsolidasi bersama para pengasuh pondok.

Pelatihan khusus diberikan kepada jajaran ustaz, ustazah, pembimbing santri, hingga para santri.

Alissa Wahid menekankan urgensi perlindungan santri. Gerakan ini merupakan respons atas kebutuhan mendesak untuk memperkuat sistem pencegahan kekerasan.

PBNU berkomitmen memastikan pesantren menjadi ruang yang aman, ramah, dan mendidik bagi seluruh santri. Pihaknya ingin menegaskan kembali identitas pesantren sebagai tempat yang melindungi martabat manusia.

Sistem penanganan kasus di internal pesantren perlu diperkuat agar lebih responsif dan efektif.

Inisiatif ini bukan sekadar imbauan, melainkan upaya membangun benteng pertahanan bagi keselamatan fisik dan mental santri.

Materi Pelatihan dan Fokus Utama

Kegiatan berlangsung selama dua hari, yakni pada 1-2 Juni 2026. Peserta dibekali pengetahuan praktis dan teoretis untuk menjawab tantangan zaman dalam pengasuhan anak di lingkungan asrama.

Para peserta mendapatkan edukasi mengenai tarbiyah jinsiyah atau pendidikan seksual yang relevan dengan konteks agama dan kesehatan.