Literasi media menjadi poin penting agar santri dan pengajar lebih bijak menghadapi pengaruh informasi digital.

Fokus utama dalam pelatihan dan halaqah meliputi pemberian pemahaman mendalam mengenai pendidikan seksual berbasis perlindungan anak.

Penguatan literasi media untuk membentengi santri dari konten negatif di dunia maya juga menjadi prioritas.

Transformasi pola pengasuhan yang mengedepankan aspek keamanan dan kenyamanan santri turut dibahas.

Pembentukan mekanisme deteksi dini untuk mengenali indikasi awal kekerasan serta penyusunan prosedur pelaporan internal yang aman juga menjadi materi penting.

Melalui pembekalan ini, setiap pesantren diharapkan memiliki kapasitas mandiri dalam mengelola konflik dan potensi kekerasan. Harapannya tercipta lingkungan belajar yang kondusif tanpa rasa takut bagi peserta didik.

Konsolidasi Pengasuh dan Perluasan Wilayah

Selain pelatihan teknis bagi pengajar, panitia juga menggelar Halaqah Pengasuh Pesantren sebagai wadah diskusi tingkat tinggi.

Forum ini mempertemukan para kiai dan pengasuh dengan narasumber ahli untuk membahas kebijakan internal lembaga.

>>> 6 Potret Raffi Ahmad Ikut Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Pesannya Mengejutkan

Diskusi difokuskan pada sinkronisasi antara sistem perlindungan anak modern dengan karakter serta nilai-nilai tradisional pesantren.

Aturan yang dibuat tidak akan berbenturan dengan norma agama yang selama ini dipegang teguh.

Target sasaran roadshow meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Lampung. Setiap provinsi ditargetkan melibatkan sekitar 1.100 peserta.

Jawa Timur menjadi lokasi sosialisasi awal dan model percontohan. Jawa Tengah fokus pada konsolidasi pengasuh dan pelatihan staf.

Jawa Barat mengutamakan penguatan literasi media dan pola asuh. Lampung fokus pada mekanisme pelaporan dan deteksi dini.

Secara keseluruhan, PBNU menargetkan partisipasi sedikitnya 4.400 orang dari pesantren tuan rumah maupun lembaga di sekitarnya.