Penyucian tersebut dilakukan sebagai persiapan matang menjelang puncak ritual Yadnya Kasada yang akan dipusatkan di Pura Luhur Poten, tepat di area Lautan Pasir Gunung Bromo.

Suasana selama ritual berlangsung sangat kental dengan nuansa sakral dan penuh keheningan. Acara dibuka dengan sesi doa bersama serta persembahan aneka sesaji berupa hasil bumi yang melimpah.

Persembahan hasil bumi tersebut merupakan wujud nyata rasa syukur masyarakat Tengger atas segala berkah yang mereka terima.

Pemangku Desa Ngadas, Slamet, memimpin langsung jalannya doa dengan melantunkan mantra-mantra suci sebelum prosesi pengambilan air dimulai oleh para pandita dan tokoh adat setempat.

Sumber Air Sakral dan Wilayah Pengambilan

Berikut adalah poin penting mengenai sumber air sakral yang digunakan dalam ritual ini:

  • Kawasan Madakaripura: Lokasi utama pengambilan tirta bagi warga Tengger yang berasal dari wilayah Kabupaten Probolinggo.
  • Sumber Watu Klosot: Salah satu mata air sakral yang terletak di wilayah Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
  • Ranu Pane: Kawasan danau suci di Lumajang yang menjadi titik pengambilan tirta bagi masyarakat setempat.
  • Mata Air Widodaren: Sumber air suci yang berlokasi langsung di dalam kawasan pegunungan Bromo untuk warga wilayah Pasuruan.

Seluruh air suci yang diperoleh dari berbagai titik sakral tersebut kemudian akan dikumpulkan menjadi satu kesatuan.

Tirta gabungan inilah yang memiliki peran penting untuk menyucikan seluruh perlengkapan ibadah di Pura Luhur Poten sebelum acara puncak dilaksanakan.

Bambang Suprapto menambahkan bahwa pengambilan tirta dilakukan secara serentak oleh masyarakat dari tiga wilayah administratif yang berbeda.

>>> BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Yogyakarta Besok Didominasi Cerah Berawan

Warga Probolinggo bergerak menuju Madakaripura, warga Pasuruan ke Widodaren, sementara warga Lumajang fokus di kawasan Ranu Pane.