Pemerintah Arab Saudi semakin mengandalkan kecerdasan buatan (AI) dan sistem pemantauan canggih untuk mengamankan pelaksanaan Haji 2026.

Lebih dari 1,6 juta jemaah diperkirakan akan bergerak hampir bersamaan menuju Mina, Arafah, dan Muzdalifah.

>>> Cara Cek Tagihan BPJS Kesehatan Terbaru 2026 Secara Online dan Offline, Praktis Tanpa Ribet

Dalam situasi padat seperti ini, keterlambatan ambulans atau gangguan jaringan seluler dapat memicu dampak fatal. Oleh karena itu, teknologi menjadi tulang punggung operasional.

AI Pantau Kerumunan Secara Real-Time

Smart Makkah Operations Center menjadi pusat kendali utama selama musim Haji. Fasilitas ini dikelola oleh Saudi Data and Artificial Intelligence Authority (SDAIA).

Di pusat kendali tersebut, sistem AI bernama "Baseer" bertugas memantau kepadatan kerumunan secara mendalam. AI ini menganalisis pola pergerakan jemaah dan mendeteksi potensi kemacetan sebelum situasi memburuk.

Teknologi Baseer memungkinkan petugas mengambil tindakan pencegahan lebih cepat. Sistem ini juga membantu mengatur koordinasi transportasi jutaan orang yang bergerak serempak.

Sebagai persiapan, pemerintah Saudi melakukan simulasi operasional skala besar selama 30 jam penuh.

Simulasi itu melibatkan 40 lembaga pemerintah, 20 ribu peserta, dan 8 ribu bus untuk menguji ketangguhan sistem.

Haji Dimulai dari Aplikasi

Transformasi digital telah mengubah cara jemaah menjalankan ibadah sejak sebelum tiba di Tanah Suci. Melalui platform Nusuk, jemaah bisa mengurus administrasi dan jadwal ibadah secara mandiri.

Aplikasi ini menyediakan layanan perizinan, navigasi lokasi, hingga pengaturan jadwal kegiatan. Digitalisasi ini dirancang untuk mendistribusikan jemaah agar tidak terjadi penumpukan massal.

Fitur utama platform digital meliputi sistem pengurusan izin ibadah terintegrasi, navigasi lokasi akurat, pengaturan jadwal ibadah untuk memecah kepadatan, dan layanan pendukung non-kontak.