Kejadian tersebut mendorong pemerintah Saudi menjadikan kesiapan medis berbasis teknologi sebagai prioritas utama.

Para pejabat kini memanfaatkan AI untuk menganalisis data visual dari lebih dari 15.000 kamera pemantau.

Rekaman tersebut digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda kelelahan massal atau kebutuhan medis mendesak di tengah kerumunan.

Teknologi Tak Bisa Gantikan Manusia

Meskipun Arab Saudi dipenuhi teknologi canggih, peran manusia di lapangan tetap tidak tergantikan. AlButhi menekankan bahwa otomatisasi hanyalah alat bantu untuk memberikan data dan visibilitas lebih cepat.

Keputusan krusial di saat kritis tetap bergantung pada pengalaman dan respons cepat petugas lapangan. Teknologi bertindak sebagai pendukung, namun sentuhan manusia tetap menjadi inti pelayanan ibadah Haji.

Hal ini terasa bagi jemaah lansia yang mungkin kesulitan mengoperasikan ponsel pintar. Kehadiran relawan dan petugas menjadi jembatan antara kecanggihan teknologi dan kebutuhan personal jemaah.

Haji Jadi Ujian Kota Masa Depan

Skala pergerakan manusia saat Haji sering dibandingkan dengan ajang besar seperti Olimpiade. Namun, Haji memiliki kompleksitas lebih tinggi karena batasan waktu dan ruang yang ketat.

Jutaan orang harus melakukan ritual yang sama dalam durasi tertentu di bawah cuaca ekstrem.

Kondisi ini menjadikan setiap musim Haji sebagai ujian berat bagi sistem transportasi, kesehatan, dan manajemen krisis dunia.

Pada akhirnya, Haji bukan sekadar ritual keagamaan massal tahunan.

>>> Presiden Prabowo Dikabarkan Batalkan Kunjungan ke Hungaria dan Austria

Fenomena ini telah menjadi ajang eksperimen global tentang bagaimana teknologi masa depan dapat mengatur jutaan orang secara aman, tertib, dan efisien.