Pemerintah Indonesia melalui Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) memberikan tanggapan terkait sorotan publik mengenai frekuensi perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto ke Prancis.

Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari, menyatakan bahwa efektivitas kunjungan kenegaraan tidak seharusnya diukur dari kuantitas perjalanan.

>>> Menelusuri Saluran Air Kuno Kerajaan Urartu, Temuan Mengejutkan 2026

Menurut Qodari, indikator keberhasilan yang paling utama adalah manfaat nyata yang dibawa pulang untuk kepentingan nasional Indonesia.

Dampak konkret bagi masyarakat dan negara menjadi poin krusial yang mendasari setiap agenda luar negeri yang dilakukan oleh kepala negara.

Fokus pada Asas Kemanfaatan dan Kepentingan Nasional

Pernyataan ini muncul sebagai respons atas opini publik yang mengkhawatirkan beban anggaran negara akibat seringnya kunjungan ke Prancis.

Qodari menekankan pentingnya melihat hasil akhir dari setiap kerja sama strategis yang dijalin di kancah internasional.

Ia menjelaskan bahwa perhitungan terhadap asas kemanfaatan harus menjadi pertimbangan utama dalam menilai kebijakan tersebut.

Pemerintah meyakini setiap langkah diplomasi yang diambil memiliki tujuan yang terukur dan berorientasi pada hasil jangka panjang.

Pemerintah sangat optimis bahwa rangkaian kunjungan Presiden ke Prancis mampu membuka peluang besar yang sangat signifikan.

Peluang tersebut mencakup berbagai sektor vital, mulai dari penguatan investasi hingga stabilitas ekonomi dan hubungan bilateral.

Sejak resmi menjabat, Presiden Prabowo tercatat telah menyambangi Prancis sebanyak empat kali dalam waktu kurang dari satu tahun.

Meskipun terlihat sering, setiap kunjungan tersebut diklaim membawa agenda spesifik dan fokus kerja sama yang berbeda-beda.

Rekam Jejak Kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis

  • 14 Juli 2025: Menghadiri peringatan Hari Nasional Prancis atau Parade Militer Hari Bastille di Paris sebagai bentuk penguatan hubungan diplomatik antarnegara.
  • 23 Januari 2026: Melakukan pertemuan resmi dengan Presiden Emmanuel Macron untuk mendiskusikan penguatan kerja sama bilateral pada berbagai sektor strategis.
  • 14 April 2026: Menggelar pertemuan empat mata dengan Macron yang berfokus pada sektor energi, pendidikan, komunikasi digital, serta komitmen investasi jangka panjang.
  • 28 Mei 2026: Kunjungan terbaru yang menghasilkan kesepakatan ekonomi besar melalui pembentukan wadah bisnis tingkat tinggi bagi kedua negara.