Angka fantastis tersebut menunjukkan betapa bernilainya kompetisi kasta tertinggi di Eropa tersebut bagi stabilitas ekonomi klub.

Apabila nilai tersebut dikonversikan ke dalam mata uang rupiah dengan estimasi kurs Rp22.000 per poundsterling, jumlahnya mencapai sekitar Rp3,1 triliun.

Nominal ini menempatkan Arsenal sebagai salah satu tim dengan pendapatan tertinggi dalam satu musim kompetisi.

>>> iNSaNiA Akui Kehilangan Gairah Kompetitif Setelah 10 Tahun Berkarier di Dota 2

Menariknya, total pendapatan yang dikumpulkan Arsenal musim ini sukses melampaui apa yang didapatkan PSG saat menjuarai Liga Champions musim lalu.

Hal ini menegaskan bahwa skema pembagian uang terbaru dari UEFA memberikan keuntungan yang jauh lebih masif bagi para peserta.

Ditinjau dari perspektif bisnis olahraga, periode ini secara resmi menjadi salah satu musim paling menguntungkan dalam sejarah sepak bola Eropa bagi Arsenal.

Keuntungan ini menjadi pelipur lara di tengah kegagalan mereka mengangkat trofi "Si Kuping Besar".

Rincian Sumber Pemasukan dari Fase Liga hingga Final

Keberhasilan finansial Arsenal ini tidak didapatkan secara instan, melainkan hasil dari akumulasi performa sejak tahap awal kompetisi dimulai.

Klub memulai perjalanan mereka dengan modal yang sudah sangat kuat di kas internal perusahaan.

  • Dana sebesar £85,3 juta diperoleh dari sektor pembagian hak siar televisi dan penilaian ranking awal klub di kompetisi.
  • Bonus sebesar £15,8 juta didapatkan berkat performa impresif dengan menyapu bersih kemenangan di delapan pertandingan fase liga.
  • Tambahan bonus senilai £8,6 juta diberikan karena keberhasilan Arsenal mengunci posisi puncak klasemen akhir di fase liga.
  • Suntikan dana segar sebesar £11,3 juta diraih setelah mereka memastikan diri lolos langsung ke babak 16 besar tanpa melalui play-off.
  • Akumulasi bonus puluhan juta poundsterling terus mengalir seiring keberhasilan tim melaju melalui babak perempat final, semifinal, hingga mencapai laga final.