Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti memberikan sorotan tajam terhadap perilaku guru yang sering menghakimi murid.

Hal ini disampaikan dalam Seminar Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat.

>>> 9 Inspirasi Desain Rumah Mungil Lansia Terbaru 2026, Aman dan Tanpa Ribet

Menurut Mu'ti, kecenderungan menilai negatif tanpa memahami latar belakang siswa masih sering terjadi. Fenomena ini dinilai menghambat terciptanya lingkungan pendidikan yang inklusif dan empatik.

Pentingnya Memahami Alasan di Balik Perilaku Siswa

Mu'ti mencontohkan saat siswa datang terlambat, guru kerap langsung menghukum tanpa bertanya alasannya. Ia menekankan pentingnya menggali penyebab di balik perilaku tersebut.

Hal yang sama berlaku bagi siswa yang sering tertidur di kelas.

Faktor seperti kekurangan gizi, membantu orang tua, atau bekerja hingga larut malam bisa menjadi penyebab kondisi fisik yang lemah.

Tanpa dialog, guru tidak akan pernah mengetahui kondisi objektif yang dihadapi anak didiknya. Oleh karena itu, perubahan cara pandang guru menjadi kunci utama.

Visi Sekolah Aman dan Nyaman

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026. Aturan ini fokus pada pembentukan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di seluruh Indonesia.

Mu'ti mengajak guru untuk melihat anak didik dengan perspektif lebih luas dan penuh keikhlasan.

>>> Jadwal Final Singapore Open 2026: Jam Tayang dan Link Streaming Resmi

Poin utama kebijakan ini meliputi komunikasi dua arah, menghindari label negatif, membangun empati, dan mengintegrasikan nilai kemanusiaan dalam tindakan disiplin.

Sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan lingkungan untuk bertumbuh dengan aman. Paradigma lama diharapkan segera ditinggalkan.