Permintaan CPO global juga terus meningkat. Namun, gejolak harga TBS domestik merugikan petani lokal.

Sudaryono memastikan PT DSI tidak mengambil margin dari rantai perdagangan sawit. Perusahaan itu hanya bertindak sebagai pengawas ekspor yang transparan.

"PT DSI berfungsi sebagai pengelola dan pengawas yang akuntabel," jelasnya. Keberadaan lembaga ini diharapkan memperbaiki sistem ekspor tanpa memberatkan petani.

Berikut ringkasan kondisi harga dan peran PT DSI:

  • Penurunan harga TBS dari Rp3.700 menjadi Rp2.300 per kg di petani plasma.
  • Kenaikan harga pupuk NPK dari Rp700 ribu menjadi Rp900 ribu per sak.
  • 123 pabrik kelapa sawit masih membeli TBS di bawah standar.
  • PT DSI tidak mengambil margin dan bertindak sebagai pengawas ekspor.
  • Harga CPO global bagus namun belum tercermin di tingkat domestik.

Apresiasi untuk Pabrik yang Patuh

Di tengah banyaknya pabrik yang menekan harga, pemerintah memberikan apresiasi kepada PKS yang patuh. Ketua KUD Sumber Usaha, Mujahit, membenarkan tidak semua pabrik menurunkan harga beli.

Ia mencontohkan PT Rimba Mujur Mahkota (RMM) yang tetap membeli TBS dengan harga tinggi sesuai arahan Dinas Perkebunan.

Petani di Mandailing Natal merasa terbantu dengan kebijakan harga yang stabil.

>>> 40 Kode Redeem FF Terbaru 28 Mei 2026, Klaim Token Universal dan Item Pinky Resmi

Keseimbangan antara harga jual dan biaya produksi sangat krusial bagi petani. Sinergi pemerintah, perusahaan ekspor, dan pemilik pabrik menjadi kunci mengatasi gejolak harga.