Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani mengalami penurunan drastis. Isu kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI disebut menjadi pemicu utama.

Sejak BUMN pengelola ekspor komoditas strategis itu berdiri, harga TBS merosot hingga Rp2.300 per kilogram. Padahal sebelumnya harga sempat mencapai Rp3.700 per kilogram.

>>> Jadwal Moto3 Mugello 2026: Jam Tayang Live dan Link Streaming Resmi

Petani di Langkat, Wahyudin, mengaku terpukul dengan kondisi ini. Ia menyebut biaya produksi justru melambung di saat harga jual jatuh.

"Awalnya harga sawit sangat bagus, Rp3.600 sampai Rp3.700 per kg. Sekarang hanya Rp2.300 sampai Rp2.500," ujarnya.

Beban petani semakin berat karena harga pupuk NPK naik dari Rp700 ribu menjadi Rp900 ribu per sak. Selisih harga yang lebar membuat keuntungan petani tergerus.

Peringatan untuk Pabrik Kelapa Sawit

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyoroti ketidakpatuhan sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS). Ia mengungkapkan masih ada 123 PKS yang membeli TBS di bawah harga standar.

Sudaryono memberikan peringatan keras kepada pengusaha pabrik. Ia menegaskan pembelian TBS wajib mengikuti standar harga dari Dinas Perkebunan setempat.

Kementerian Pertanian terus memantau operasional pabrik sawit di berbagai daerah. Sebelumnya, 139 PKS teridentifikasi melanggar, kini berkurang menjadi 123 PKS.

Pemerintah mendorong seluruh pelaku industri sawit menjaga kesejahteraan petani plasma. Komitmen bersama diperlukan agar harga kembali stabil.

Kondisi Pasar Global dan Peran PT DSI

Menurut Sudaryono, tidak ada alasan bagi pabrik untuk menurunkan harga sepihak. Harga CPO di pasar internasional justru sedang dalam tren positif.

>>> BMKG Minta Warga Waspada Banjir Rob di Pesisir Surabaya Hari Ini 1 Juni 2026