Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memetakan empat langkah strategis untuk menutup kesenjangan kapabilitas kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.

Wamenkomdigi Nezar Patria mengatakan langkah tersebut untuk memastikan pemanfaatan AI tidak hanya sekadar penggunaan dasar.

>>> Crunchyroll Umumkan Jadwal Rilis Blu-ray Oktober 2026: Shield Hero Season 4 dan Lord of Mysteries

Menurutnya, pemanfaatan AI juga harus bisa mendorong transformasi di sektor-sektor seperti pendidikan, kesehatan, jasa keuangan, dan publik.

"Adopsi saja mungkin tidak cukup, memakai AI saja tidak cukup, tapi bagaimana kapabilitas dalam menggunakannya menjadi sangat penting," kata Nezar dalam forum diskusi Closing the AI Capability Gap in Indonesia, di Jakarta, Rabu (15/7).

Indonesia saat ini termasuk salah satu negara dengan tingkat adopsi AI tertinggi di dunia, masuk ke dalam lima besar negara dengan penggunaan ChatGPT untuk coding, analitik data, dan pendidikan.

Hampir separuh angkatan kerja sudah memanfaatkan AI setiap minggu.

Namun, hal ini belum sepenuhnya diikuti kemampuan memanfaatkan AI secara mendalam, baik oleh individu maupun dunia usaha.

Menurut Nezar, tantangan terbesar bukan lagi terletak pada akses terhadap teknologi, melainkan kualitas pemakainya.

"Ini bukan soal kesenjangan akses, tapi kesenjangan dalam hal kedalaman," ujar dia.

Kesenjangan itu terlihat dari masih lebarnya jarak antara pengguna AI yang paling mahir dengan pengguna rata-rata, serta belum meratanya pemanfaatan AI di sektor usaha.

Sebagian besar pelaku usaha masih menggunakan AI untuk kebutuhan operasional dasar, sedangkan hanya sebagian kecil yang memanfaatkannya untuk mentransformasi model bisnis.

Kondisi serupa juga dihadapi jutaan UMKM yang belum sepenuhnya terintegrasi dalam ekosistem digital.

"Kita tidak bisa membangun satu AI house atau rumah AI atau fondasi yang bahkan belum pernah terdigitalisasi," ujar dia.