Penunjukan Luke Thomas Mahony sebagai Direktur Utama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dinilai sebagai langkah yang mengedepankan meritokrasi.

Hal ini disampaikan oleh pakar manajemen sumber daya manusia (SDM) Yodhia Antariksa.

in1

>>> Pemkot Bandung Kaji Gratiskan Warga Masuk Taman Tegallega

Menurut Yodhia, pengisian posisi strategis seharusnya tidak berfokus pada kewarganegaraan. Yang lebih relevan adalah kompetensi, integritas, pengalaman, dan kapasitas kepemimpinan seseorang.

"Dalam praktik manajemen SDM modern, pengisian posisi strategis harus didasarkan pada prinsip meritokrasi.

Kompetensi, integritas, pengalaman, dan kapasitas kepemimpinan menjadi faktor yang jauh lebih relevan dibanding status kewarganegaraan," ujar Yodhia dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Penunjukan Luke Thomas yang merupakan warga negara asing (WNA) sempat memicu perdebatan.

Namun, Yodhia menilai jika ia memiliki pengalaman panjang di sektor sumber daya alam dan memahami rantai pasok ekspor komoditas, maka langkah tersebut dapat dipahami sebagai upaya menghadirkan kepemimpinan profesional.

DSI akan mengelola aktivitas ekonomi bernilai besar yang berkaitan dengan penerimaan negara. Oleh karena itu, pengelolaannya harus berbasis sistem, data, tata kelola yang baik, dan akuntabilitas tinggi.

"Profesionalisme menjadi fondasi agar keputusan bisnis tidak dipengaruhi kepentingan jangka pendek maupun kepentingan kelompok tertentu," katanya.

Yodhia menambahkan bahwa penggunaan talenta global merupakan praktik umum di berbagai negara. Banyak perusahaan milik negara dan sovereign wealth fund di dunia memanfaatkan profesional terbaik tanpa memandang kewarganegaraan.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kualitas individu hanya salah satu faktor pendukung.

Tata kelola dan sistem yang dibangun tetap menjadi penentu utama keberhasilan DSI dalam memperkuat pengawasan dan menutup celah kebocoran penerimaan negara.

>>> Strategi Nutrisi untuk Jaga Performa Pelari Endurance Jarak Jauh