Dolar Singapura juga dianggap sebagai mata uang safe haven setelah dolar AS.

Peningkatan dolar Singapura ini juga berdampak positif bagi pariwisata Indonesia, karena mata uang yang kuat dapat menarik wisatawan dari Singapura untuk berkunjung.

Penguatan dan Prospek Dolar AS

Ekonom dari BCA, David Sumual, menyatakan bahwa setelah pandemi COVID-19, banyak modal asing yang mengalir ke Singapura dan Malaysia.

Hal ini sejalan dengan realokasi investasi dari China.

Akibatnya, Indonesia mengalami defisit neraca pembayaran yang menyebabkan mata uangnya melemah. David melihat bahwa pada saat yang bersamaan, Ringgit Malaysia dan dolar Singapura menguat terhadap dolar AS.

CEO EMEA JPMorgan Asset Management, Patrick Thomson, memperkirakan dolar AS mungkin melemah dalam jangka panjang akibat tingginya tingkat utang AS.

Meski demikian, dolar AS kini tetap menjadi aset safe haven.

Patrick memaparkan bahwa Amerika Serikat menghadapi dinamika fiskal yang mengakibatkan utang yang terus meningkat dalam jangka panjang.

>>> Ide Resep Menu Spesial Long Weekend 2026 Pakai Alat Masak Transmart

Di sisi lain, ia menganggap Eropa mungkin menyediakan tempat berlindung bagi aset yang aman karena situasi fiskal yang lebih terkendali.