Peluang suhu dunia menembus angka 2 derajat Celsius dalam waktu dekat masih dianggap sangat kecil, yakni di bawah 1 persen.

Para ilmuwan tetap memperingatkan bahwa tren saat ini berada di jalur yang berbahaya.

Tanpa langkah mitigasi yang serius, kerusakan lingkungan akan semakin sulit diperbaiki.

Berikut daftar wilayah yang diprediksi terdampak perubahan suhu dan curah hujan secara signifikan:

  • Kawasan Arktik: Mengalami pemanasan musim dingin tiga kali lebih cepat dibandingkan rata-rata kenaikan suhu global.
  • Wilayah Lintang Tinggi Utara: Diprediksi mengalami peningkatan curah hujan yang signifikan.
  • Kawasan Subtropis: Berisiko menghadapi bencana kekeringan yang lebih parah, terutama di belahan bumi selatan.
  • Kawasan Amazon: Cenderung memiliki kondisi cuaca yang jauh lebih kering, berbanding terbalik dengan anomali basah di Siberia.

Wilayah seperti Alaska, Eropa Utara, dan Sahel diperkirakan akan mengalami peningkatan kelembapan.

Sebaliknya, penyusutan es laut di Laut Bering, Laut Barents, dan Laut Okhotsk diprediksi terus berlanjut setidaknya hingga tahun 2035.

WMO memberikan penekanan khusus bahwa pelampauan ambang batas 1,5 derajat Celsius dalam satu tahun tertentu bukan berarti kegagalan total Perjanjian Paris.

Target batas suhu tersebut biasanya dihitung berdasarkan angka rata-rata selama jangka waktu sekitar dua dekade.

Penyusunan laporan ini melibatkan kolaborasi dari 13 lembaga iklim global terkemuka, termasuk pusat pemodelan di Amerika Utara dan Eropa.

Temuan ini menjadi peringatan keras bagi para pemimpin dunia untuk segera mempercepat aksi nyata dalam menekan emisi karbon.

>>> Insentif Kendaraan Listrik 2026: Pemerintah Prioritaskan Baterai Nikel

Tanpa upaya kolektif, risiko cuaca ekstrem akan semakin sering melanda berbagai belahan dunia.