Sukun selama ini lebih dikenal sebagai pangan tradisional yang biasa digoreng atau dijadikan camilan.

Namun, di tengah tantangan ketahanan pangan dan perubahan iklim, komoditas lokal ini dinilai memiliki potensi besar.

>>> Samsung Galaxy Watch8 Classic 46mm: Harmoni Sempurna Antara Desain Klasik dan Teknologi Masa Depan

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Edi Santosa, menyebut sukun memenuhi kriteria sebagai superfood lokal Indonesia.

Alasannya, kandungan gizinya tinggi, budidayanya rendah emisi karbon, dan mampu beradaptasi dengan perubahan iklim.

"Suatu pangan dapat disebut superfood jika memiliki kandungan nutrisi tinggi tanpa antinutrisi, memberikan manfaat kesehatan, serta dibudidayakan dengan cara yang rendah emisi karbon dan tangguh terhadap perubahan iklim.

Berdasarkan berbagai kajian dan pengamatan di lapangan, sukun memenuhi ketiga kriteria itu," ujar Edi.

Lebih Bergizi dari Sekadar Sumber Karbohidrat

Menurut Edi, keunggulan sukun tidak hanya pada kandungan karbohidratnya.

Buah ini kaya serat, memiliki indeks glikemik lebih rendah dibandingkan beberapa sumber karbohidrat lain, serta mengandung vitamin C.

Penelitian juga menemukan kandungan vitamin A, folat, zat besi (Fe), dan seng (Zn) pada sukun. Zat gizi tersebut berperan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi dan mendukung pencegahan stunting.

Edi mengatakan, pada beberapa aspek nutrisi, sukun bahkan lebih baik dibandingkan singkong. Namun, ia menekankan setiap komoditas pangan memiliki keunggulan masing-masing sehingga saling melengkapi.

>>> Apakah Ukuran Sepatu Lari Harus Pas? Ini Penjelasan yang Benar

Tahan Perubahan Iklim

Di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim terhadap pertanian, kemampuan adaptasi sukun menjadi nilai tambah.

Sebagai tanaman tahunan, sukun tumbuh di berbagai kondisi lingkungan, dari curah hujan tinggi hingga daerah relatif kering seperti Nusa Tenggara Timur.