Bagaimana jadinya jika semua makhluk laut lenyap dalam semalam?

Pertanyaan ini dijawab oleh para peneliti dari NORCE dan Bjerknes Centre for Climate Research di Norwegia melalui eksperimen pemikiran yang serius.

>>> Memilih Pembalut Ramah Lingkungan, Ini yang Perlu Diketahui Perempuan

Menggunakan Norwegian Earth System Model, mereka mensimulasikan dunia tanpa kehidupan laut untuk mengukur seberapa besar ketergantungan manusia pada organisme laut dalam mengatur karbon dioksida.

Hasil studi yang diterbitkan di Nature Communications ini membalikkan asumsi lama.

Laut bukan sekadar hamparan air raksasa, melainkan penyerap karbon fenomenal yang menyerap sekitar 25% emisi CO2 manusia setiap tahun.

Pompa Karbon Biologis yang Terlupakan

Fenomena ini disebut pompa karbon biologis. Di dekat permukaan, plankton mengonsumsi karbon, lalu saat mati mereka tenggelam membawa karbon ke kedalaman.

Tanpa kehidupan laut, kadar CO2 atmosfer melonjak sekitar 50%. Ekosistem laut merupakan bagian penting dari siklus karbon global yang menjaga CO2 tetap rendah.

Penulis utama Jerry Tjiputra menjelaskan bahwa penelitian ini menyoroti hubungan yang selama ini diabaikan: "Sudah lama diketahui bahwa pompa biologis menjaga kadar CO2 tetap rendah, namun sebagian besar studi mengabaikan interaksinya dengan ekosistem darat."

Dalam skenario tanpa kehidupan laut, ekosistem darat hanya mampu menyerap sekitar setengah dari karbon yang seharusnya diserap laut.

>>> CSI Entertainment Jadwalkan Laga Ekshibisi Mayweather vs Tyson 26 September

Alam berusaha mengompensasi di darat apa yang hilang di laut.

Dampak pada Iklim dan Target Paris

Tim peneliti mensimulasikan dua periode: masa pra-industri dan masa depan dengan emisi tinggi. Hasilnya sama: tanpa kehidupan laut, lebih banyak CO2 tertinggal di udara.