Puisi Rumi, terutama dalam karya monumentalnya Masnavi, sering dibaca sebagai eksplorasi cinta suci. Namun, di balik itu tersimpan pelajaran hidup yang dalam, termasuk soal kekayaan.

Dalam bait yang diterjemahkan, Rumi berkata: "Lepaskan dirimu, anakku, lepas dari cengkeramannya! Berapa lama lagi kau akan menjadi budak emas?"

>>> Vasektomi di Australia Meningkat, Pria Lebih Bertanggung Jawab

Bait itu memperingatkan bahaya keserakahan. Namun cara Rumi mengajar yang membedakannya dari penyair lain.

Pertama, ia membangun hubungan akrab dengan menyapa pembaca sebagai "anakku". Ini membuat pembaca merasa seperti sesama pengembara spiritual.

Kedua, ia menunjukkan penyakit spiritual melalui gambaran jelas: dunia bagaikan lautan luas, dan kita seperti kendi kecil yang tak mungkin menampung seluruh air laut.

Langkah ketiga adalah memberikan solusi melalui citra yang kuat. Rumi menggunakan kepercayaan kuno tentang mutiara yang terbentuk dari tetesan hujan yang masuk ke dalam tiram.

>>> OpenAI Tutup Browser Atlas yang Diklaim Akan Mengubah Segalanya

Mutiara hanya terbentuk jika tiram menutup rapat dan puas dengan tetesan yang masuk. Jika terus terbuka untuk menampung lebih banyak, tetesan itu tidak akan berubah menjadi mutiara.

Pelajaran bagi kita di era digital: sering kali mata kita melihat ke luar, mengamati apa yang tidak kita miliki, dan jarang merenungkan berkah yang ada.

Kita baru menghargai kesehatan saat sakit, dan baru menyadari kehilangan saat semuanya pergi. Rasa cukup adalah kunci untuk menikmati hidup tanpa perlu membandingkan diri dengan orang lain.

Ini bukan ajakan untuk hidup miskin atau meninggalkan harta.

>>> Mob Psycho 100 III Anime Rayakan 10 Tahun dengan Film Pendek Baru

Melainkan panggilan untuk mengubah perspektif: dengan menjadikan rasa cukup sebagai cara pandang, kita akan melihat mutiara di tempat yang tak pernah kita duga.