Budaya kerja modern yang serba cepat memicu lahirnya fenomena presenteeism. Kondisi ini membuat karyawan merasa tertekan untuk selalu terlihat sibuk dan tersedia setiap saat.

Tekanan ini muncul dalam bentuk kewajiban membalas pesan pekerjaan dengan cepat. Pekerja juga merasa harus tetap online sepanjang hari dan memantau surel di luar jam kantor.

>>> Ramalan Zodiak Cinta: Komunikasi dan Kejujuran Kunci Harmonisasi Hubungan

Apa Itu Presenteeism?

Istilah presenteeism muncul pada pertengahan 1990-an. Awalnya, istilah ini menggambarkan pegawai yang memaksakan diri masuk kantor saat sakit karena takut konsekuensi buruk.

Kini, transformasi teknologi dan sistem kerja digital memperluas maknanya. Presenteeism mencakup perilaku bekerja berlebihan demi membangun citra, bukan untuk kinerja terbaik.

Bentuk modern fenomena ini disebut digital presenteeism.

Karyawan merasa berkewajiban menjaga status hijau di aplikasi komunikasi, merespons pesan kilat, dan selalu hadir dalam rapat virtual.

Dampak Buruk bagi Karyawan

Kebiasaan ini memicu dampak serius terhadap kesehatan fisik dan mental.

Stephen Bevan dari Institute for Employment Studies menyebut fenomena ini tumbuh subur di perusahaan yang menganggap cuti sebagai tanda kelemahan.

Akibatnya, pegawai memaksakan diri bekerja saat kondisi tubuh menurun. Mereka menunda pemeriksaan medis dan mengalami kelelahan kronis.

Anne Helen Petersen, peneliti budaya kerja, menambahkan bahwa presenteeism performatif muncul ketika keterlibatan kasat mata lebih diapresiasi daripada mutu pekerjaan.

>>> Dokter Kulit Rekomendasikan Empat Bedak Dingin Ber-BPOM untuk Atasi Jerawat

Aktivitas konstan di ruang obrolan digital bisa menjadi racun jika hanya demi predikat rajin.

Efek Pandemi terhadap Fleksibilitas Kerja

Pandemi memperparah digital presenteeism karena meningkatnya jejak digital pekerja.

Meski sistem kerja lebih fleksibel, hilangnya sekat antara rumah dan kantor membuat pegawai sulit memutuskan koneksi dengan pekerjaan.