PT Astra International Tbk (ASII) menajamkan strategi dengan menggeser fokus dari model holding yang sangat terdiversifikasi menuju pendekatan portofolio yang lebih terarah dan berorientasi pada imbal hasil.

Perseroan menegaskan tiga mesin utama pertumbuhan ke depan, yakni otomotif, jasa keuangan, dan Heavy Equipment, Mining, Construction & Energy (HEMCE).

>>> Hidemasa Morita Tinggalkan Sporting CP, Gabung Leeds United

Ketiga sektor ini secara agregat menyumbang sekitar 90% laba grup.

Penguatan Bisnis Inti

Dalam hasil review strategis, manajemen Astra menekankan penguatan bisnis inti, terutama di sektor otomotif.

Ekspansi tidak hanya bertumpu pada penjualan kendaraan baru, tetapi juga aftersales, suku cadang, mobil bekas, hingga platform trade-in.

Di sisi lain, terdapat peluang pertumbuhan melalui akuisisi di segmen komponen dan suku cadang. Langkah ini berpotensi mendukung PT Astra Otoparts Tbk (AUTO).

Pada segmen HEMCE, perseroan mulai mengarah pada diversifikasi ke komoditas, seperti batu bara metalurgi dan emas. Astra juga tetap mempertahankan investasi pada portofolio non-inti, seperti kesehatan dan infrastruktur.

Perseroan mempercepat program replanting di PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menjadi 8 ribu hektare tahun ini, dari sebelumnya 4 ribu hektare pada 2025.

>>> FIFA Resmi Rilis Markas Latihan Piala Dunia 2026 di AS, Meksiko, Kanada

Langkah ini membuka peluang monetisasi aset yang dinilai kurang optimal.

Rekomendasi Analis

Analis BRI Danareksa Sekuritas Sabela Nur Amalina dan Erindra Krisnawan mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 6.850.

Target tersebut merefleksikan valuasi menarik di level 7,2 kali PE dan dukungan basis pendapatan yang terdiversifikasi.

Target harga saham ASII juga merefleksikan target total shareholder return (TSR) teens, didukung dividend payout ratio 45–50% serta rencana pembelian kembali saham (buyback) hingga Rp 8 triliun dalam 12 bulan ke depan.

Proyeksi tersebut tidak mengubah estimasi pertumbuhan laba per saham (EPS) perseroan tahun 2026-2028 di level 28,4%, karena sebagian inisiatif masih bersifat jangka menengah.

Harga saham ASII turun tajam 8,48% menjadi Rp 5.125 pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin.

>>> Sri Sultan HB X Respons Pembubaran Ibadah GMS di Bantul

Pelemahan harga saham sepanjang year to date (ytd) telah mencapai 24,63%. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan penurunan IHSG BEI lebih dari 30% untuk ytd.