Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, menekankan bahwa layanan fertilitas harus berjalan beriringan dengan empati yang tinggi.

Hal ini disampaikannya saat menghadiri acara re-launching Klinik Yasmin Reproductive Cluster di RSCM Kencana, Jakarta, Selasa lalu.

>>> Kemendikdasmen Salurkan 159 Hewan Kurban ke 35 Provinsi

Menurut Dante, perjalanan pasangan yang mengalami gangguan kesuburan bukan sekadar upaya medis biasa. "Mereka datang bukan untuk berobat dari sakit fisik, tetapi memperjuangkan sebuah kehidupan yang belum hadir.

Di sinilah layanan fertilitas berbeda; yang kita rawat bukan hanya tubuh, tetapi juga jiwa dan harapan," ujarnya.

Tantangan Infertilitas Global dan Nasional

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2025 menunjukkan sekitar 17,5% populasi dewasa atau 1 dari 6 orang di dunia mengalami infertilitas.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat angka infertilitas dialami oleh 10-15% pasangan usia subur.

Artinya, sekitar 4 hingga 6 juta dari total 39,8 juta pasangan usia subur di Tanah Air memerlukan intervensi medis untuk mendapatkan keturunan.

Tantangan ini menjadi perhatian serius pemerintah, terutama karena Angka Kelahiran Total (TFR) Indonesia pada 2023 berada di angka 2,14 anak per perempuan.

Wamenkes Dante menambahkan, angka fertilitas total perlu dijaga untuk mempersiapkan generasi masa depan yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

"Kalau nanti generasi ini pertumbuhannya bagus, maka kita akan punya usia produktif yang bagus di tahun 2045 yang disebut sebagai masa Indonesia Emas.

>>> Pembelajaran di Universitas Harus Sinkron dengan Kebutuhan Industri

Ini harus dijaga kualitasnya," katanya.

Peningkatan Layanan Bayi Tabung

Respons masyarakat terhadap layanan Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB) atau bayi tabung (IVF) terus meningkat.