PT Astra International Tbk (ASII) mengarahkan fokus bisnis pada sektor-sektor yang mampu menghasilkan imbal hasil lebih tajam.

Langkah ini diambil untuk mengejar target total shareholder return (TSR) yang lebih tinggi bagi pemegang saham.

>>> Amanode Masuk Regulatory Sandbox OJK untuk Uji Likuiditas Kripto

Emiten berkode ASII ini memfokuskan lini bisnisnya di sektor otomotif, jasa keuangan, serta alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi (HEMCE).

Sementara itu, sektor infrastruktur dan kesehatan tetap dipertahankan sebagai portofolio pertumbuhan jangka panjang.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Sabela Nur Amalina, menilai strategi ini sebagai pergeseran dari pendekatan perusahaan induk yang sangat terdiversifikasi menuju pengelolaan portofolio yang lebih fokus dan berorientasi pada hasil.

"Kami melihat potensi ekspansi pertumbuhan dalam jangka waktu dekat berasal dari bisnis suku cadang/komponen otomotif, serta diversifikasi bisnis PT United Tractors Tbk (UNTR) menuju batu bara metalurgi," tulis mereka dalam riset.

Tiga lini bisnis utama—otomotif, jasa keuangan, dan HEMCE—memberikan kontribusi hingga 90% terhadap total laba bersih perusahaan.

"Arah ini cukup tepat karena memperkuat keunggulan inti ASII sambil tetap mempertahankan manfaat diversifikasi," jelas Erindra.

Peninjauan strategis ini bukan merupakan perubahan radikal dari arah bisnis Astra sebelumnya. Prioritas jangka pendek tetap diarahkan pada lini bisnis yang telah memiliki keunggulan kompetitif.

Di sektor otomotif, perluasan usaha tidak hanya mengandalkan penjualan kendaraan baru. Perusahaan akan mengoptimalkan layanan purna jual, penyediaan suku cadang, bisnis mobil bekas, dan platform tukar tambah.

Astra juga membuka peluang akuisisi tambahan pada bisnis komponen dan suku cadang. Langkah ini diperkirakan berdampak positif bagi anak usahanya, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO).