BDO di Indonesia menunjuk Erikman Pardamean sebagai IT Advisory Partner.

Langkah ini diambil untuk memperkuat kapabilitas layanan di bidang IT Advisory, menyusul pesatnya adopsi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), cloud, dan transformasi digital.

>>> UNIQLO dan Cecilie Bahnsen Luncurkan Koleksi Shapes of Poetry

Fokus perusahaan saat ini tidak hanya pada inovasi, tetapi juga pada aspek kepercayaan digital (digital trust), tata kelola, dan akuntabilitas.

Organisasi kini dituntut mampu mengelola risiko yang terintegrasi antara teknologi, keamanan siber, dan perlindungan data.

Kebutuhan ini semakin mendesak di Indonesia.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 3,6 miliar anomali serangan siber pada tahun 2025.

Ancaman siber bersifat masif dan berkelanjutan.

Selain itu, pemberlakuan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) menegaskan bahwa perlindungan data telah menjadi prioritas hukum, finansial, dan reputasi bagi korporasi.

Rekam Jejak Erikman Pardamean

Erikman Pardamean memiliki rekam jejak panjang dalam membantu organisasi lintas sektor, termasuk keuangan, BUMN, dan industri digital.

Ia berpengalaman menghadapi tantangan teknologi di bidang IT GRC, cybersecurity, privacy, dan AI governance.

>>> ALVA Hadirkan Motor Listrik N3 Next Gen di IIMS Surabaya 2026

Menurut Erikman, adopsi AI yang semakin cepat membuka peluang besar bagi bisnis, namun juga menghadirkan risiko baru. Risiko tersebut meliputi potensi penyalahgunaan data, bias algoritma, hingga kurangnya transparansi.

Ia menilai tantangan terbesar organisasi saat ini adalah mengelola keterkaitan antara AI, keamanan siber, dan perlindungan data secara menyeluruh.

Ketiga aspek tersebut sering dikelola terpisah, sehingga menimbulkan celah risiko yang rentan dimanfaatkan pelaku serangan siber.

Pentingnya Kesadaran Pemangku Kepentingan

Reza Aminy, Associate Director IT & Digital BDO di Indonesia, menekankan pentingnya pemahaman komprehensif dari seluruh pemangku kepentingan. Hal ini diperlukan untuk membangun sinergi yang kuat.

Dengan kesadaran yang terintegrasi, organisasi lebih siap memitigasi risiko baru yang dibawa oleh AI.

Mereka juga mampu memastikan kepatuhan terhadap regulasi, menjaga reputasi bisnis, dan membangun fondasi digital trust yang berkelanjutan.

Johanna Gani, salah satu leader BDO di Indonesia, menambahkan bahwa membangun kepercayaan digital memerlukan pendekatan yang lebih luas dari sekadar investasi teknologi.

>>> Brad Pitt Tampil Perdana di Publik Bersama Ines de Ramon

Organisasi harus memastikan tata kelola, budaya, dan proses pengambilan keputusan ikut berkembang selaras dengan percepatan inovasi.