Harga Bitcoin tertahan di kisaran pertengahan US$ 76.000 atau sekitar Rp 1,3 miliar.

Kondisi ini dipicu oleh ketidakpastian makro akibat serangan militer terbaru Amerika Serikat di Selat Hormuz pada Rabu (27/5/2026).

>>> 5 Film Bioskop Terbaru untuk Libur Idul Adha 2026

Langkah militer AS yang meluncurkan serangan di wilayah Iran selatan mengubah kalkulasi pelaku pasar.

Sebelumnya, pasar berharap ada angin segar dari rencana gencatan senjata 60 hari antara kedua negara.

Meskipun AS mengklaim tetap menahan diri selama masa gencatan senjata, serangan tersebut menyasar situs peluncuran rudal dan kapal pemasang ranjau laut.

Dampaknya, harga minyak mentah Brent kembali menguat sementara pasar saham bergerak bervariasi.

Saluran konflik bersenjata yang belum sepenuhnya tertutup membuat risiko di Selat Hormuz beralih menjadi ancaman aktif.

Jalur logistik ini merupakan perlintasan utama bagi 20 persen konsumsi minyak dunia dan 25 persen perdagangan minyak jalur laut global.

Asimetri respons antara pedagang harian dan Bank Sentral AS menjadi beban makro utama bagi Bitcoin.

>>> 10 Negara Terkotor di Dunia Tahun 2025, Indonesia Masuk Daftar

Industri kripto kini bergerak searah dengan aset berisiko makro akibat masifnya arus modal institusional pasca-persetujuan ETF Bitcoin Spot.

Likuiditas pasar keuangan diproyeksikan tetap ketat selama Bank Sentral AS mempertahankan sikap hati-hati terhadap suku bunga tinggi.

Situasi di Selat Hormuz dalam 60 hari ke depan diperkirakan menjadi pembatas ruang gerak Bitcoin untuk mencetak rekor tertinggi baru.

Catatan Sensitivitas Bitcoin terhadap Geopolitik

Sepanjang Mei 2026, pergerakan Bitcoin menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap berita utama geopolitik.

Awal Mei, Bitcoin melesat menuju US$ 82.000 saat minyak mentah WTI turun 6 persen akibat harapan damai.

Pada 18 Mei, Bitcoin jatuh ke US$ 76.500 setelah Donald Trump memperingatkan Iran mengenai batas waktu kesepakatan.

>>> Arema FC Resmi Lepas Lucas Frigeri Setelah Kontrak Berakhir

Militer AS kemudian mengumumkan serangan "defensif" di wilayah Iran selatan.