Beberapa orang mendadak menjadi “ahli” dadakan. Mereka membagikan ciri-ciri batu empedu asli: warna kehijauan, cokelat tua, atau kekuningan. Ada yang menyebut teksturnya keras. Ada yang mengatakan harus ringan saat dipegang.

Sebagian cerita terdengar seperti mitos pasar. Sebagian lain mungkin berasal dari pengalaman nyata.

Tetapi di media sosial, batas antara fakta, rumor, dan sensasi sering kali kabur.

Yang menarik, demam batu empedu ini memperlihatkan perubahan cara masyarakat memandang hewan kurban. Dulu perhatian utama hanya pada kualitas daging dan jumlah penerima. Kini bahkan organ paling tersembunyi pun bisa dianggap memiliki nilai ekonomi tersendiri.

Ada semacam logika baru yang bekerja diam-diam: jangan sampai ada bagian berharga yang terbuang.

Padahal sebagian besar sapi kurban kemungkinan besar memang tidak memiliki batu empedu. Kalau pun ada, ukurannya belum tentu bernilai tinggi.

Namun media sosial jarang bekerja dengan logika probabilitas. Ia lebih menyukai kemungkinan kecil yang terdengar spektakuler.

Seorang pengguna mengunggah video menemukan batu empedu, lalu jutaan orang merasa peluang itu juga bisa terjadi pada mereka.

Fenomena semacam ini bukan pertama kali muncul di Indonesia. Sebelumnya publik pernah diramaikan oleh perburuan batu akik, ikan arwana, kelapa bercabang, hingga sarang semut Papua. Ada pola yang mirip: benda biasa mendadak diberi aura langka dan bernilai tinggi.

Bedanya, batu empedu sapi muncul tepat di momentum Idul Adha, ketika jutaan sapi dipotong hampir bersamaan di seluruh negeri.

Momentum itu membuat rasa penasaran tumbuh serentak.

Di beberapa tempat, orang bahkan menunggu proses pembersihan jeroan hanya untuk memastikan apakah ada batu empedu di dalam kantong kecil tersebut. Bukan karena kebutuhan medis, melainkan karena cerita harga fantastis yang telanjur menyebar.