Angka itu terdengar nyaris tak masuk akal untuk sesuatu yang berasal dari endapan cairan pencernaan sapi.

Secara medis, batu empedu adalah material yang mengeras di kantong empedu. Ia terbentuk dari cairan pencernaan yang mengendap dalam waktu lama. Tidak semua sapi memilikinya, dan ukurannya pun berbeda-beda.

Kelangkaan menjadi alasan utama mengapa harganya tinggi.

Batu empedu lebih sering ditemukan pada sapi tua. Sementara industri peternakan modern justru mengutamakan pemotongan sapi usia muda demi efisiensi daging. Akibatnya, pasokan batu empedu alami semakin sedikit.

Tetapi permintaan tak turun. Justru terus meningkat.

Di Cina, batu empedu sapi dikenal dengan nama Niu Huang. Dalam pengobatan tradisional, bahan ini digunakan dalam ramuan Angong Niuhuang Wan yang dipercaya membantu penanganan kondisi neurologis darurat.

Ramuan itu kerap dikaitkan dengan stroke, gangguan kesadaran akibat demam tinggi, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular.

Di titik inilah benda kecil dalam tubuh sapi berubah makna. Ia bukan lagi sekadar endapan biologis, melainkan komoditas kesehatan bernilai tinggi.

Indonesia sebenarnya hanya ikut terkena pantulan demam global itu. Namun media sosial membuat pantulan tersebut terasa sangat dekat dan sangat riuh.

Satu video viral cukup untuk memancing ribuan orang melakukan hal serupa.

Orang mulai merekam proses membelah kantong empedu. Ada yang memperlihatkan isi jeroan dengan narasi dramatis seperti menemukan harta karun. Ada pula yang membandingkan harga batu empedu dengan emas atau mobil.

Algoritma bekerja cepat. Semakin aneh dan mengejutkan sebuah informasi, semakin mudah ia menyebar.

Di banyak tempat, jagal dan panitia kurban mulai mendapat pertanyaan yang dulu hampir tak pernah muncul. Apakah ada batu empedu? Sudah diperiksa belum? Bisa dijual atau tidak?