Pasar Keuangan Domestik Rentan, IHSG Anjlok 8,35%
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan domestik masih berada dalam fase rentan.
Tekanan eksternal yang meningkat, pelemahan rupiah, dan kekhawatiran perlambatan ekonomi menjadi faktor utamanya.
>>> Keutamaan dan Tata Cara Sholat Iduladha, Ibadah Sunnah di 10 Dzulhijjah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 8,35% sepanjang perdagangan 18–22 Mei 2026.
IHSG kini berada di level 6.162,04.
Kapitalisasi pasar tergerus 10,07% menjadi Rp 10.635 triliun, terpangkas sekitar Rp 1.190 triliun hanya dalam sepekan.
Tekanan utama berasal dari rebalancing MSCI yang efektif 1 Juni 2026.
Enam saham Indonesia dihapus dari Global Standard Index, dengan estimasi potensi outflow hingga US$ 1,7 miliar.
Belum termasuk risiko penurunan status Indonesia dari Emerging Market ke Frontier Market jika masalah struktural tidak segera dibenahi.
Pada perdagangan Senin (25/5/2026), IHSG ditutup menguat 0,72% ke level 6.206,35.
Penguatan ditopang kenaikan saham big caps seperti AMMN, BBRI, dan BBCA.
Namun, penguatan tersebut masih dibayangi net sell asing sekitar Rp 2,2 triliun menjelang implementasi rebalancing MSCI.
>>> IHSG Diprediksi Bergerak di Kisaran 6.000-6.200 pada Jumat
Di saat yang sama, rupiah kembali melemah ke level Rp 17.744 per dolar AS.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai penguatan IHSG masih bersifat teknikal.
“Selama volatilitas rupiah masih tinggi dan foreign outflow belum mereda, investor global cenderung tetap defensif terhadap aset domestik.
Penguatan pasar saat ini masih relatif rapuh,” kata Rully.
Dia juga menyoroti pergeseran fokus pasar dari isu inflasi menuju kekhawatiran perlambatan pertumbuhan.
Hal ini tercermin dari dinamika yield obligasi domestik pasca kenaikan BI Rate 50 basis poin.
Pendataran kurva imbal hasil (flattening yield curve) dinilai Rully sebagai sinyal risiko perlambatan pertumbuhan ke depan.
Kenaikan yield tenor pendek pasca kenaikan BI Rate mengindikasikan likuiditas domestik yang semakin ketat.
Sementara yield tenor panjang yang relatif tertahan menunjukkan pasar mulai mempertimbangkan pelemahan pertumbuhan dalam jangka menengah.
>>> Presiden Prabowo Tiba di Paris untuk Kunjungan Kenegaraan Resmi
“Pasar masuk ke fase di mana investor tidak hanya memperhatikan arah suku bunga, tetapi juga sustainability pertumbuhan ekonomi domestik di tengah biaya dana yang meningkat dan tekanan eksternal yang masih tinggi,” tambahnya.
Update Terbaru
Polytron Luncurkan Laptop Luxia R5 di Tengah Kelangkaan RAM Global
Rabu / 27-05-2026, 01:24 WIB
Kemendikdasmen Umumkan Hasil Tes Kemampuan Akademik SD dan SMP 2026
Rabu / 27-05-2026, 01:24 WIB
Hambatan Integrasi Ekonomi ASEAN Mengemuka di Tengah Gejolak Global
Rabu / 27-05-2026, 01:24 WIB
Prudential Indonesia Perkuat Pencegahan Fraud Asuransi Kesehatan
Rabu / 27-05-2026, 01:24 WIB
7 Aplikasi Traveling Terbaik untuk Liburan Praktis dan Lengkap
Rabu / 27-05-2026, 01:24 WIB
Kemenpar Wajibkan Vila dan Homestay Miliki NIB Mulai Agustus 2026
Rabu / 27-05-2026, 01:24 WIB
Mensa Indonesia Dorong Pemahaman Kecerdasan Multidimensional di Era AI
Rabu / 27-05-2026, 01:24 WIB
Peneliti Indonesia-Australia Ciptakan Board Game Edukasi Perubahan Iklim untuk Siswa SD
Rabu / 27-05-2026, 01:24 WIB
Oppo Pad 6 Resmi Meluncur, Bawa Chipset Dimensity 9500s dan Baterai 10.420 mAh
Rabu / 27-05-2026, 01:23 WIB
OPPO Luncurkan Find X9 Series Global, Varian Ultra Bawa Zoom 10x
Rabu / 27-05-2026, 01:23 WIB
Oppo Luncurkan Tablet Pad Air 5 Starry White dengan Chipset Dimensity 7300-Ultra
Rabu / 27-05-2026, 01:19 WIB
Xiaomi Siapkan Redmi K90 Ultra dengan Fast Charging 100W
Rabu / 27-05-2026, 01:19 WIB
DC Studios Siap Rilis Supergirl di Bioskop Indonesia Juni Mendatang
Rabu / 27-05-2026, 01:19 WIB
KTM Solutions Tekankan Keseimbangan Bisnis dan Talenta di Manager Fest 2026
Rabu / 27-05-2026, 01:19 WIB






