Rupiah Melemah ke Rp 17.794 per Dolar AS pada 26 Mei 2026

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali terdepresiasi dalam transaksi pasar domestik.
Berdasarkan data yang dikutip dari Investor Daily, mata uang garuda merosot 50 poin ke posisi Rp 17.794 per dolar AS pada Selasa siang, 26 Mei 2026.
>>> Ketahui Perbedaan Hantavirus dan DBD dari Gejala hingga Pencegahan
Pada sesi pembukaan perdagangan Selasa pagi, rupiah sudah tertekan dengan pelemahan tipis 13 poin atau sekitar 0,07 persen ke level Rp 17.757 per dolar AS.
Proyeksi Pelemahan Berlanjut
Pengamat pasar mata uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan tren penurunan masih berpotensi berlanjut.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh rencana penutupan aktivitas pasar keuangan domestik pada Rabu (27/5/2026) dalam rangka memperingati Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.
Menurut Ibrahim, momentum libur nasional tersebut berisiko membatasi ruang bagi Bank Indonesia untuk melakukan intervensi di pasar.
"Kita melihat pasar akan tutup besok, dan kondisi ini bisa membuat pelemahan rupiah (berlanjut) cukup tajam.
>>> Negara ASEAN Perlu Perkuat Komunikasi Hadapi Gejolak Global
Kemungkinan besar level rupiah di Rp 18.000 (per dolar AS) akan tercapai karena tekanan eksternal cukup tinggi," ungkap Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang menekan kurs rupiah bersumber dari peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat meluncurkan serangan udara ke teritori Iran pada awal pekan.
"Pernyataan Trump (Presiden AS) kerap berubah-ubah sehingga membuat tensi geopolitik di Timur Tengah memanas kembali," Ibrahim menyoroti.
Selain ketegangan di Timur Tengah, situasi geopolitik di kawasan Eropa Timur juga kembali memanas menyusul serangan udara yang menghantam wilayah Ukraina, termasuk kota Kyiv.
>>> Kemenaker Tambah Kuota Magang Nasional 2026 Menjadi 150 Ribu Peserta
"Kenaikan harga minyak mentah yang cukup tinggi juga berdampak terhadap impor minyak di Indonesia. Sehingga kebutuhan dolar AS yang tinggi memenuhi impor minyak (dan posisi rupiah)," papar Ibrahim.
Update Terbaru
Pemerintah Matangkan Implementasi Mandatori Biodiesel B50 Mulai 1 Juli 2026
Selasa / 26-05-2026, 19:54 WIB
BPJS Kesehatan Perkenalkan Inovasi Digital JKN ke Delegasi Asia Pasifik
Selasa / 26-05-2026, 19:53 WIB
BTN Sediakan Rumah Lelang Murah Lewat Lelang Akbar 2026
Selasa / 26-05-2026, 19:53 WIB
Pemprov Jatim Perketat Pengawasan Lalu Lintas Hewan Menjelang Iduladha
Selasa / 26-05-2026, 19:53 WIB
Hatago Raih Top Innovation Choice Award 2026 Lewat Camilan Sehat
Selasa / 26-05-2026, 19:53 WIB
Umuh Muchtar Gelar Pesta Juara Persib di Sumedang, Pemain Asing Absen
Selasa / 26-05-2026, 19:53 WIB
Bukan Sukuna, Ini 5 Villain di Anime yang Disebut Punya Kekuatan Lebih Gila
Selasa / 26-05-2026, 19:53 WIB
Ketahui Perbedaan Hantavirus dan DBD dari Gejala hingga Pencegahan
Selasa / 26-05-2026, 19:49 WIB
Negara ASEAN Perlu Perkuat Komunikasi Hadapi Gejolak Global
Selasa / 26-05-2026, 19:49 WIB
Kemenaker Tambah Kuota Magang Nasional 2026 Menjadi 150 Ribu Peserta
Selasa / 26-05-2026, 19:49 WIB
Baznas Terima Sapi Limosin Satu Ton dari Shopee Barokah untuk Kurban
Selasa / 26-05-2026, 19:49 WIB
Astra International Fokus pada Tiga Portofolio untuk Tingkatkan Imbal Hasil
Selasa / 26-05-2026, 19:48 WIB
Medela Potentia Ekspansi ke Kamboja, Luncurkan Salonpas dan Salonsip
Selasa / 26-05-2026, 19:48 WIB
Pemerintah Pusat Kucurkan Rp100,1 Triliun untuk Pascabencana Sumatra
Selasa / 26-05-2026, 19:48 WIB






