Lini masa kapan BYD resmi meluncur di F1 masih abu-abu.

Pabrikan asal Tiongkok itu harus melewati proses pendaftaran resmi FIA jika kompetisi kembali membuka slot untuk tim baru.

Belum diketahui bagaimana rencana regulasi baru F1 pada 2031, yang kabarnya akan mengembalikan mesin V8 dan mengurangi porsi elektrifikasi, bakal memengaruhi strategi global BYD.

Respons FIA dan BYD

Presiden FIA, Mohammed Ben Sulayem, sempat memberikan pandangannya tahun lalu.

"Jika ada pabrikan Tiongkok yang tertarik, dan saya akan berbicara atas nama FOM, mereka akan menyetujuinya, karena ini tentang mempertahankan bisnis," ujarnya.

"Jika ada pabrikan dari Tiongkok, katakanlah, dan FOM menyetujuinya, dan saya 100% yakin mereka akan menyetujuinya, bukankah akan menghasilkan lebih banyak uang dengan masuknya Tiongkok?

Saya percaya, ya," katanya.

Sinyal ketertarikan ini diperkuat pernyataan Executive Vice President BYD, Stella Li, kepada SportMediaset.

"Saya menyukai Formula 1 karena ini tentang gairah, cultura, dan orang-orang bermimpi untuk berada di Formula 1. Ini adalah kesempatan nyata untuk menguji teknologi kami," kata Stella.

Langkah BYD ini tidak mengejutkan. Pasar kendaraan listrik Tiongkok tengah mengalami lonjakan masif dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi ini membuat sejumlah pabrikan barat menghadapi tekanan finansial akibat derasnya permintaan mobil listrik dan hibrida murah dari Tiongkok.

>>> Jaecoo J5 EV Jadi Pilihan Utama Pengalihan dari Mobil Bensin di Indonesia

Popularitas F1 yang terus meroket secara global menjadikannya magnet bagi pabrikan otomotif. Nama-nama besar seperti Honda, Audi, hingga Ford sudah memastikan diri ambil bagian dalam kompetisi musim ini.