PO Sinar Jaya memilih bersikap hati-hati dalam menghadapi tren bus listrik di jalur Trans-Jawa. Perusahaan otobus ini memutuskan untuk tidak terburu-buru mengadopsi kendaraan nir-emisi tersebut.

Founder PO Sinar Jaya Rasidin Karyana mengaku terus memantau langkah kompetitor yang sudah menjajaki teknologi ramah lingkungan.

>>> Polri Naikkan Porsi Tilang Manual Jadi 30 Persen di Operasi Patuh

Ia menyebut PO Sumber Alam dan PO Efisiensi di Jawa Tengah telah mulai mengoperasikan bus listrik.

Infrastruktur Jadi Kendala Utama

Rasidin menyoroti masalah infrastruktur sebagai hambatan utama. Menurutnya, ketersediaan stasiun pengisian daya untuk kendaraan besar masih sangat terbatas di sepanjang jalur Trans-Jawa.

Ia khawatir keterbatasan charging station dapat mengganggu ketepatan waktu operasional. Penumpukan armada saat pengisian daya juga menjadi kekhawatiran tersendiri.

>>> Pasar LCGC Nasional Mulai Pulih pada April 2026

Mesin Solar Dinilai Lebih Praktis

Bagi Sinar Jaya, kepastian operasional tetap menjadi prioritas. Penggunaan mesin konvensional berbahan bakar solar dinilai lebih minim risiko bagi manajemen yang mengelola ribuan izin trayek.

"Tapi kalau masih pakai solar, mungkin masih lebih mudah," ujar Rasidin.

Meski bersikap hati-hati, Sinar Jaya tidak menutup pintu terhadap teknologi masa depan. Mereka memilih posisi wait and see sambil menunggu kesiapan regulasi dan infrastruktur nasional.

>>> Changan Luncurkan Deepal S05 REEV untuk Percepat Elektrifikasi di Indonesia

"Artinya mungkin suatu ketika Sinar Jaya juga mungkin akan ikut bermain. Tapi lihat-lihat dulu lah," kata dia.