Pengiriman kendaraan dari Jepang ke Timur Tengah mengalami penurunan lebih dari 90 persen pada April 2026.

Penurunan ini terjadi baik dari segi volume maupun nilai ekspor, mencakup mobil penumpang, truk, dan bus.

>>> Tekanan Biaya Operasional Mulai Terasa di Industri Bengkel

Penyebab utama adalah memanasnya ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Data pemerintah Jepang yang dikutip Reuters menunjukkan situasi ini berdampak langsung pada kelancaran jalur distribusi global.

Aktivitas pelayaran terganggu akibat penutupan efektif Selat Hormuz. Jalur laut yang tersumbat menghambat pengiriman unit kendaraan ke salah satu pasar utama industri otomotif Jepang.

Dampak pada Produsen Otomotif Jepang

Kawasan Timur Tengah sangat penting bagi produsen seperti Toyota Motor Corporation dan Nissan Motor Co., Ltd. Wilayah ini tidak hanya menyerap mobil baru, tetapi juga menjadi tujuan utama ekspor kendaraan bekas Jepang.

Sepanjang tahun 2025, pasar Timur Tengah menyumbang sekitar 14 persen dari total ekspor kendaraan Jepang. Gangguan di Selat Hormuz kini menjadi hambatan paling signifikan bagi produsen.

Menanggapi kendala ini, sejumlah pabrikan mulai menyesuaikan volume produksi untuk pasar Timur Tengah.

“Dampak terbesar berasal dari penutupan Selat Hormuz, yang membuat beberapa produsen mengurangi produksi,” kata Mibe, dikutip Jumat (22/5/2026).

“Kami memperkirakan dampaknya terutama terbatas pada distribusi dan pengiriman. Namun situasinya masih terus kami pantau,” ujarnya.

>>> Kemenhub Minta Operator Bus dan Pemudik Patuhi Aturan Lalu Lintas

Potensi Perubahan Strategi Rantai Pasok

Para analis memprediksi ketegangan geopolitik yang berlanjut akan mengubah strategi rantai pasok jangka panjang produsen otomotif Jepang.

Perusahaan manufaktur diperkirakan mulai melirik basis produksi alternatif untuk meminimalkan risiko distribusi.