Tekanan biaya hidup dan operasional mulai dirasakan di berbagai sektor usaha, termasuk industri bengkel kendaraan.

Kenaikan harga bahan baku, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, dan meningkatnya biaya distribusi mendorong naiknya harga sejumlah komponen otomotif.

>>> Kemenhub Minta Operator Bus dan Pemudik Patuhi Aturan Lalu Lintas

Kondisi ini membuat pelaku usaha harus berhati-hati dalam menyesuaikan harga layanan di tengah daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.

Di sektor bengkel, tekanan terlihat dari kenaikan harga oli, chemicals, hingga spare part yang digunakan dalam perawatan kendaraan.

Kenaikan Harga Bahan Baku

Pemilik bengkel Dokter Mobil, Lung Lung, mengatakan saat ini terjadi kenaikan pada berbagai bahan dasar operasional bengkel.

“Semua bahan dasar naik, oli, chemicals, parts. Jadi sudah pasti sebentar lagi akan naik semua harga,” ujar Lung Lung kepada Kompas.

com, Jumat (22/5/2026).

Meski demikian, ia menegaskan bahwa untuk saat ini belum ada penyesuaian harga jasa servis di bengkel yang ia kelola.

>>> North Carolina Gugat VinFast, Pabrik AS Terancam Diambil Alih

“Belum (naik),” katanya.

Strategi Bertahan Pelaku Bengkel

Pelaku bengkel lain, Indra Kurniawan, pemilik Quick Service, juga mengakui adanya tekanan biaya akibat kenaikan harga oli yang mencapai sekitar 20 persen.

Alih-alih menaikkan harga, pihaknya memilih strategi berbeda. “Untuk sementara waktu kita menurunkan profit untuk menjaga pelanggan,” ujar Indra.

Kondisi ini menunjukkan adanya strategi bertahan yang dilakukan pelaku usaha bengkel di tengah tekanan biaya produksi yang meningkat.

Menahan kenaikan tarif servis menjadi langkah sementara agar pelanggan tidak beralih atau menunda perawatan kendaraan.

>>> Pemerintah Bahas Pajak Kendaraan Listrik, Insentif Dievaluasi

Meski harga jasa servis masih relatif stabil, pelaku industri menilai penyesuaian tarif bisa saja terjadi jika tren kenaikan biaya operasional terus berlanjut.