Krisis geopolitik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dunia dan mulai mengubah peta industri otomotif global secara signifikan.

Di tengah kenaikan harga bahan bakar dan kekhawatiran keamanan energi, penjualan kendaraan listrik (EV) justru menunjukkan akselerasi pertumbuhan.

>>> Ekspor Kendaraan Astra Daihatsu Motor Melonjak 33 Persen hingga April 2026

Laporan terbaru International Energy Agency (IEA) memperkirakan hampir 30 persen mobil yang terjual secara global pada 2026 berupa kendaraan listrik.

Proyeksi dalam laporan Global EV Outlook 2026 tersebut muncul saat gejolak energi akibat konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah naik tajam.

IEA menyebut penjualan mobil listrik global diproyeksikan mencapai 23 juta unit tahun ini, atau setara sekitar 28 persen dari total penjualan mobil dunia.

Penjualan kendaraan listrik sepanjang 2025 tercatat sudah tumbuh lebih dari 20 persen secara tahunan menjadi sekitar 21 juta unit.

Artinya, satu dari empat mobil yang terjual pada tahun lalu sudah merupakan kendaraan listrik.

Kondisi ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya tekanan di pasar energi global setelah konflik Iran dan ketegangan Timur Tengah mengganggu pasokan minyak.

Reuters melaporkan harga minyak sempat menembus lebih dari 100 dollar AS per barrel.

IEA menilai krisis energi akibat konflik di Timur Tengah memperlihatkan kembali tingginya ketergantungan banyak negara terhadap impor minyak dunia.

Sektor transportasi jalan raya saat ini menyumbang hampir separuh permintaan minyak global, sehingga respons kebijakan akan memengaruhi arah pasar otomotif jangka panjang.

Krisis minyak pada 1970-an sebelumnya pernah mendorong lahirnya standar efisiensi bahan bakar kendaraan secara global.

Kebijakan tersebut membuat efisiensi konsumsi bahan bakar mobil konvensional hampir dua kali lebih baik dibandingkan periode 1975.