Reuters mencatat registrasi kendaraan listrik di Eropa naik 34 persen secara tahunan pada April 2026, mencerminkan dampak perang Iran terhadap pasar energi.

Produsen otomotif besar seperti Volkswagen, Stellantis, Volvo, Renault, hingga SEAT/Cupra dilaporkan mengalami peningkatan pesanan kendaraan listrik.

>>> Kalista Group: Logistik Paling Cepat Adopsi Kendaraan Listrik di Indonesia

Renault bahkan menyebut terjadi perubahan minat konsumen secara signifikan di Inggris setelah harga bahan bakar melonjak tajam.

Platform jual beli kendaraan seperti Carwow dan OLX juga mengalami lonjakan pencarian kendaraan listrik, termasuk merek asal China seperti BYD, Leapmotor, dan Xpeng.

Fenomena serupa mulai terlihat di negara Eropa Selatan yang sebelumnya relatif lambat mengadopsi kendaraan listrik.

Konsumen memandang EV sebagai cara mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Asia Tenggara dan India Dorong Kendaraan Roda Dua Listrik

Di negara berkembang dengan tingkat kepemilikan kendaraan rendah dan sensitivitas tinggi terhadap harga, kendaraan listrik roda dua dan tiga menjadi pilihan menarik.

IEA mencatat penjualan kendaraan listrik roda dua dan roda tiga di Asia Tenggara meningkat lebih dari dua kali lipat secara tahunan pada kuartal I-2026.

Sementara di India, penjualan kendaraan listrik jenis tersebut tumbuh lebih dari 30 persen pada periode yang sama.

Kondisi ini menunjukkan dampak kenaikan harga energi mempercepat adopsi kendaraan listrik berbiaya lebih rendah di negara berkembang.

China Manfaatkan EV untuk Tekan Impor Minyak

Bagi negara yang bergantung pada impor minyak, peningkatan penggunaan kendaraan listrik dipandang sebagai bagian strategi ketahanan energi nasional.

China yang merupakan importir minyak terbesar dunia saat ini juga menjadi negara dengan populasi kendaraan listrik terbesar.