Saat pandemi Covid-19, banyak negara juga mulai memberikan subsidi kendaraan listrik untuk mendorong pemulihan ekonomi sekaligus mempercepat adopsi EV.

Dalam laporannya, IEA menyebut armada kendaraan listrik global pada 2025 berhasil mengurangi konsumsi minyak sekitar 1,7 juta barrel per hari (bph).

Pengurangan konsumsi minyak ini terutama terjadi di negara yang menerapkan standar efisiensi bahan bakar dan emisi karbon seperti China dan Uni Eropa.

Beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Vietnam sebagai pasar EV terbesar di kawasan, mulai memperluas insentif pajak kendaraan listrik sebagai respons krisis energi.

Harga Bensin Naik Membuat EV Dinilai Lebih Hemat

Lingkungan harga minyak yang tinggi membuat konsumen mulai memperhatikan manfaat ekonomi dan efisiensi kendaraan listrik.

Mobil listrik dinilai memiliki biaya operasional lebih rendah dibanding kendaraan bermesin pembakaran internal karena efisiensi energinya lebih tinggi.

Kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah turut memperbesar potensi penghematan penggunaan kendaraan listrik bagi konsumen.

Berdasarkan rata-rata harga minyak pada April 2026, penghematan biaya bahan bakar tahunan pengguna EV di Uni Eropa meningkat 35 persen dibanding 2025.

Untuk armada kendaraan perusahaan yang menempuh jarak jauh, potensi penghematan biaya operasional bahkan disebut bisa beberapa kali lebih besar.

"Tanda-tanda awal menunjukkan penjualan kendaraan listrik meningkat di negara-negara yang menghadapi masalah pasokan, atau di mana kenaikan harga bahan bakar sangat tajam," tulis IEA dalam laporannya.

Meski demikian, dampak penuh krisis energi terhadap pasar kendaraan masih membutuhkan waktu karena adanya jeda antara pemesanan dan pengiriman kendaraan.

Penjualan EV Mulai Meningkat di Sejumlah Negara

Sejumlah indikator awal mulai menunjukkan kenaikan minat terhadap kendaraan listrik di negara yang mengalami lonjakan harga bahan bakar.