Pemerintah berencana membedakan skema insentif untuk kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) berdasarkan jenis baterai yang digunakan. Produsen otomotif VinFast menyambut positif wacana tersebut.

Chief Executive Officer VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, menyampaikan apresiasi atas langkah pemerintah.

>>> BYD Beri Sinyal Atto 1 Bakal Diproduksi Lokal di Indonesia

Menurutnya, insentif ini menunjukkan keseriusan dalam mempercepat transisi dari kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) ke kendaraan listrik (EV).

"Pertama respons kami tentu berterima kasih kepada pemerintah.

Karena dengan diberikannya insentif ini menunjukkan keseriusan pemerintah untuk melakukan transisi dari ICE ke EV," ujar Kariyanto di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Ia menilai percepatan adopsi kendaraan listrik krusial di tengah lonjakan harga minyak dunia yang membebani subsidi energi. "Transisi ke EV tentu akan mengurangi jumlah subsidi," kata dia.

Pembedaan Insentif Berdasarkan Baterai

Terkait wacana pemberian subsidi lebih besar untuk mobil listrik dengan baterai berbasis nikel, VinFast menyatakan dapat memahami arah kebijakan tersebut.

Indonesia memiliki cadangan nikel yang melimpah dan ingin mengoptimalkan pemanfaatannya bagi industri kendaraan listrik domestik.

"Mengenai pembedaan baterai kami juga dapat mengerti. Karena Indonesia memiliki sumber nikel yang luar biasa besar.

Tentu pemerintah ingin mengoptimalkan hal tersebut," ujar Kariyanto.

Namun, ia mengonfirmasi bahwa jajaran kendaraan listrik VinFast saat ini masih menggunakan baterai berbasis lithium ferro phosphate (LFP).

>>> Kalista Ungkap Tantangan Infrastruktur Uji Coba Bus Listrik AKAP

Perusahaan membuka peluang untuk mengkaji penggunaan material baterai alternatif lain di masa mendatang.

"Tapi untuk yang kami pakai saat ini memang baterainya masih LFP.

Tapi tentu tidak menutup kemungkinan kalaupun melakukan study-study ke depannya untuk alternatif material baterai yang lain," kata dia.