Marcel Radhival, yang dikenal sebagai Pesulap Merah, menyoroti dugaan praktik pesugihan di Keraton Gunung Kawi, Kabupaten Malang. Ia menemukan sejumlah hal yang dinilai keluar dari koridor ajaran agama.

Penelusuran itu diunggah melalui akun media sosial pribadinya. Marcel memulai dengan berdialog bersama warga setempat dan juru kunci Keraton Gunung Kawi.

>>> Drake Cetak Rekor Streaming Global Lewat Tiga Album Baru

Setelah itu, ia mendatangi area situs yang dianggap sakral oleh sebagian kalangan.

Saat memeriksa sebuah bangunan bersama juru kunci, Marcel mendapati wadah sesajen, dupa, foto, patung, struktur batu, dan buku tamu.

"Ada daftar buku tamu, ada usaha rental mobil dan MBG. Ada di sini," ucap Marcel sambil menunjuk daftar buku tamu.

Ia juga menemukan sebuah gua dan patung Hanoman dengan suguhan sesajen di depannya. Perjalanan berlanjut ke area pemakaman yang disebut juru kunci terkait tradisi kejawen.

"Ini ada makam kejawen, yang sebenarnya dalam Islam tidak boleh. Apalagi meminta-minta atau ngalap berkah.

Saya juga gak mengerti, apakah ini kejawen beneran," kata Marcel.

Ia kemudian membaca prasasti pendirian Keraton Gunung Kawi. Marcel kembali menemukan gua lain yang dipenuhi sesajen.

>>> Nikita Mirzani Kembali ke Rutan Usai Operasi Tulang Belakang

Kesimpulan Pesulap Merah

Menurut Marcel, kompleks Keraton Gunung Kawi lebih tepat berfungsi sebagai destinasi edukasi sejarah dan kebudayaan. "Kalau datang ke sini sangat rekomendasi untuk belajar sejarah dan budayanya," ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa ornamen dan aktivitas di lokasi mencerminkan kepercayaan di luar Islam. "Dari hasil eksplore bisa dilihat ada kepercayaan di luar Islam itu sendiri," tegasnya.

"Dan bagi umat muslim minta ke kuburan itu memang tidak diperbolehkan, karena itu bagian dari mursyik," sambungnya.

Berdasarkan wawancara dengan juru kunci, motif utama pengunjung adalah mencari berkah. "Pesugihan di sana atau ngalap berkah bahasanya itu pasti kaya raya tetapi tergantung nasib," tutur Marcel.

Ia menyarankan masyarakat untuk berdoa sesuai ajaran agama masing-masing tanpa perlu membuang energi di lokasi tersebut. "Kalau tergantung nasib, apa bedanya dengan kita berdoa," bebernya.

Marcel juga mengungkapkan bahwa masyarakat asli Malang tidak mempercayai narasi pesugihan di Keraton Gunung Kawi.

>>> Pagelaran Sabang Merauke 2026 Angkat Tema Hikayat Srikandi Nusantara

"Orang Malang sendiri tidak percaya ada pesugihan, yang katanya berhasil karena nasib mereka," tandasnya.