Para astronom berhasil mengungkap misteri besar di Galaksi Bima Sakti terkait distribusi eksoplanet di sekitar bintang-bintang kecil.

Penelitian terbaru menunjukkan adanya anomali berupa kelangkaan planet jenis sub-Neptunus pada sistem bintang merah redup.

>>> Samsung Luncurkan TV Micro RGB Pertama di Indonesia dengan Bonus Galaxy Z Fold7

Bintang merah redup merupakan jenis bintang yang paling umum di galaksi kita.

Namun, planet yang ukurannya berada di antara Bumi dan Neptunus tersebut justru hampir tidak ditemukan di sana.

Temuan yang dipublikasikan dalam The Astronomical Journal ini memberikan perspektif baru mengenai evolusi planet.

Para ilmuwan menggunakan data selama enam tahun dari misi Transiting Exoplanet Survey Satellite milik NASA untuk memetakan keberadaan planet melalui metode transit.

Berdasarkan analisis terhadap 8.134 bintang merah redup (mid-to-late M dwarfs) yang diamati, peneliti hanya berhasil memverifikasi lima planet sub-Neptunus.

Angka ini dinilai sangat rendah mengingat dominasi bintang jenis ini di Bima Sakti.

Fenomena ini mengindikasikan adanya mekanisme pembentukan planet yang unik pada sistem tersebut. Hal ini memicu hilangnya kategori planet tertentu secara praktis di sekitar bintang kecil.

"Di sekitar bintang-bintang ini, sub-Neptunus praktis menghilang. Itu berarti mekanisme pembentukan planet di sana memang berbeda," ungkap Eric Gillis, mahasiswa doktoral dari McMaster University.

Dominasi Super-Earth dan Teori Pembentukan

Berbeda dengan kelangkaan sub-Neptunus, penelitian ini justru menemukan kelimpahan super-Earth atau planet berbatu yang ukurannya sedikit lebih besar dari Bumi.

Pola ini berbeda dengan bintang yang mirip Matahari.

>>> ITSEC Asia Luncurkan i&intellibron Aman untuk Deteksi Ancaman Siber Mobile

Pada bintang mirip Matahari, biasanya terdapat radius valley yang memisahkan kategori super-Earth dan sub-Neptunus secara jelas.