Para astronom berhasil merekonstruksi struktur kerangka alam semesta yang dikenal sebagai jaring kosmik dengan tingkat detail yang belum pernah ada sebelumnya.

Pencapaian ini dimungkinkan berkat data dari Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST).

>>> Aqua Bubar Setelah 30 Tahun, Akhiri Era 'Barbie Girl'

Peta kosmik ini mengungkap evolusi galaksi di dalam jaring kosmik sejak 13 miliar tahun lalu.

Struktur raksasa tersebut menjadi rumah bagi gugusan galaksi dan terdiri dari filamen gas, bintang, ruang hampa, serta lembaran materi gelap.

Riset Internasional dan Data COSMOS-Web

Riset internasional yang dipimpin peneliti University of California, Riverside (UCR) ini diterbitkan di The Astrophysical Journal pada 6 Mei 2026.

Penelitian tersebut memanfaatkan data melimpah dari JWST melalui program survei COSMOS-Web.

COSMOS-Web merupakan program survei terbesar JWST yang menghabiskan waktu pengamatan hingga 255 jam.

Dibandingkan survei COSMOS2020 oleh Teleskop Hubble, data JWST memiliki presisi jarak kosmik yang lebih baik dan mampu menangkap galaksi redup bermassa kecil.

Penelitian ini menunjukkan pengaruh faktor intrinsik dan ekstrinsik terhadap pembentukan serta kematian bintang sepanjang waktu kosmik.

Peta kosmik ini membuktikan bahwa galaksi masif di lingkungan padat cenderung sekarat karena potensi pembentukan bintangnya telah padam.

Peneliti berteori bahwa ketika halo materi gelap yang menopang galaksi mencapai 1 triliun massa matahari, gas akan memanas dan mencegah lahirnya bintang baru.

Keberadaan lubang hitam supermasif yang aktif juga turut menghentikan pembentukan bintang melalui semburan jet berkecepatan tinggi.

>>> Google Resmi Luncurkan Gemini Omni, Model AI dengan Kemampuan Video Canggih

Mekanisme yang berkaitan dengan massa galaksi ini mendominasi hingga sekitar 7 miliar tahun lalu atau separuh dari usia alam semesta saat ini.