Sementara itu, di alam semesta yang lebih muda, penghentian pembentukan bintang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan sekitar.

Faktor lingkungan merampas material pembentuk bintang atau mencegah akumulasi gas dingin.

"Kami menunjukkan bagaimana jaring kosmik membantu membentuk pertumbuhan galaksi sebelum, selama, dan setelah era puncak tersebut," kata salah satu penulis studi dan astronom UCR, Hossein Hatamnia.

"Pada masa-masa awal, wilayah yang padat tampaknya menjadi tempat pertumbuhan galaksi yang cepat, sementara pada masa-masa berikutnya, lingkungan yang padat justru dikaitkan dengan penghentian pembentukan bintang," tutur Hossein Hatamnia.

Kemampuan mutakhir JWST berhasil memperjelas struktur skala besar dan evolusi alam semesta. Galaksi kuno yang sebelumnya hanya terlihat sebagai gumpalan buram kini dapat diamati dengan jelas.

"Lompatan dalam hal kedalaman dan resolusi ini benar-benar signifikan, dan sekarang kita dapat melihat jaring kosmik pada saat alam semesta baru berusia beberapa ratus juta tahun, sebuah era yang pada dasarnya tidak terjangkau sebelum adanya JWST," kata salah satu penulis, Bahram Mobasher, profesor fisika dan astronomi di UCR.

Katalog berisi 164.000 galaksi yang digunakan untuk membangun peta jaring kosmik tersebut kini telah dibuka dan dapat diakses oleh publik.

Data ini diharapkan dapat mendukung penelitian lebih lanjut tentang evolusi alam semesta.

Penelitian tersebut menunjukkan pengaruh faktor intrinsik dan ekstrinsik terhadap pembentukan serta kematian bintang sepanjang waktu kosmik.

>>> Google Luncurkan Antigravity 2.0 Berbasis Agen untuk Saingi Kompetitor

Data ini diperoleh melalui COSMOS-Web, program survei terbesar JWST yang menghabiskan waktu pengamatan hingga 255 jam.