Musk mendesak ganti rugi hingga 150 miliar dolar AS, menuntut pencopotan Altman dari jajaran dewan direksi, serta membatalkan restrukturisasi perusahaan.

Dalam argumennya, Musk yang juga merupakan salah satu pendiri dan investor awal OpenAI pada 2015, menuduh perusahaan telah menyimpang dari misi awal sebagai organisasi nirlaba.

Ia mengklaim OpenAI telah beralih menjadi entitas bisnis komersial demi memperkaya para petingginya setelah menerima investasi bernilai miliaran dolar AS dari Microsoft.

Dalam dokumen gugatan, Musk bahkan menggunakan istilah bahwa OpenAI telah "mencuri organisasi amal".

Argumen Pembelaan OpenAI

Sebaliknya, tim kuasa hukum OpenAI menolak mentah-mentah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa Musk sebenarnya sudah mengetahui perubahan arah bisnis perusahaan sejak lama.

Perwakilan hukum OpenAI menunjukkan bukti bahwa pada tahun 2017, Musk sendiri pernah mendorong OpenAI menjadi entitas profit bahkan sempat mengusulkan merger dengan Tesla.

Menurut pihak OpenAI, langkah hukum ini baru diambil oleh Musk setelah perusahaan meraup sukses besar lewat peluncuran ChatGPT pada 2022, serta setelah Musk mendirikan perusahaan AI kompetitor bernama xAI pada 2023.

Pengacara OpenAI, William Savitt, menggambarkan tindakan hukum ini sebagai bentuk kekecewaan atau "sour grapes" akibat tertinggal dari pencapaian OpenAI.

Selama tiga pekan persidangan berjalan, dinamika konflik internal antara Musk dan Altman terkuak melalui pemeriksaan ratusan dokumen, surel pribadi, pesan teks, hingga catatan rapat.

>>> Meta Luncurkan Fitur Mengetik di Udara untuk Kacamata Pintar Ray-Ban

Dalam proses persidangan tersebut, Musk hanya hadir saat memberikan kesaksian di awal, sementara Altman dan Brockman menghadiri sebagian besar jalannya sidang.