Pada Desember 2015, Elon Musk dan Sam Altman duduk berdampingan di atas panggung Vanity Fair New Establishment Summit di San Francisco.

Mereka mengumumkan kemitraan sebagai ketua bersama laboratorium riset kecerdasan buatan yang baru lahir.

>>> Komdigi Perkuat Patroli Siber untuk Awasi Deepfake AI dan Hoaks

Kala itu Musk adalah miliarder berkat kesuksesan Tesla. Sementara Altman memimpin Y Combinator, inkubator startup ternama.

Sepanjang tahun itu, keduanya bekerja sangat dekat demi satu misi: mencegah Google memonopoli teknologi AI super canggih. Proyek nirlaba itu diberi nama OpenAI.

Dari Kemitraan ke Pertarungan Hukum

Sebelas tahun berlalu, kemitraan yang dulunya erat kini hancur lebur. Hubungan mereka berujung pada pertarungan hukum tingkat tinggi di Pengadilan Oakland, California.

Persidangan selama tiga pekan terakhir terjadi setelah Musk menggugat Altman dan OpenAI. Musk menilai mereka melanggar komitmen awal untuk menjaga OpenAI tetap sebagai lembaga nirlaba.

Saat ini, taruhannya besar. OpenAI bernilai lebih dari US$ 850 miliar.

>>> Data Center di Georgia Sedot 30 Juta Galon Air Tanpa Terpantau Pemerintah

Sementara itu, perusahaan antariksa milik Musk, SpaceX, memiliki valuasi fantastis sebesar US$ 1,25 triliun. Valuasi itu setelah resmi merger dengan laboratorium AI miliknya, xAI, pada Februari 2026.

Kedua perusahaan raksasa ini tengah berpacu menuju pasar saham. SpaceX bahkan diperkirakan akan merilis prospektusnya minggu ini.

Namun, sebelum bisa memikat para investor, Musk harus duduk di kursi saksi di hadapan juri. Ia harus membuktikan Altman telah mengkhianati misinya.

Kedua tokoh teknologi ini duduk berdampingan di atas panggung Vanity Fair New Establishment Summit di San Francisco sambil melempar senyum ke arah audiens.

>>> Mantan ART Siap Damai dengan Erin, tapi Ada Syaratnya

Mereka mengumumkan kemitraan baru sebagai ketua bersama dari laboratorium riset kecerdasan buatan yang baru lahir.