CEO Microsoft Satya Nadella ternyata sudah lama khawatir OpenAI bisa menyingkirkan perusahaannya dari puncak hierarki teknologi. Kekhawatiran itu terungkap dalam persidangan antara Elon Musk dan Sam Altman.

Nadella mengirimkan pesan elektronik kepada jajaran eksekutif Microsoft pada April 2022. Pesan itu dikirim tujuh bulan sebelum ChatGPT resmi diluncurkan.

>>> Maia Estianty Pamer Gendong Cucu: Seperti Jatuh Cinta Lagi

"I do not want to be IBM and OpenAI to be Microsoft," tulis Nadella dalam email tersebut, seperti dilansir Detik iNET pada Senin (18/5/2026).

Pernyataan itu merujuk pada sejarah tiga dekade lalu saat Microsoft berhasil melampaui IBM sebagai produsen komputer utama.

Pada 1980, IBM bersedia mendistribusikan sistem operasi Microsoft, tetapi justru Microsoft yang tumbuh menjadi raksasa lebih besar.

Antisipasi Microsoft agar Tak Terulang Sejarah

Untuk mencegah kejadian serupa, Microsoft harus memastikan posisinya tetap diuntungkan melalui perjanjian kekayaan intelektual. Bukan sekadar menyediakan layanan cloud Azure bagi OpenAI.

Hubungan investasi sejak 2019 telah mencakup kucuran dana lebih dari USD 13 miliar untuk perusahaan pimpinan Sam Altman tersebut.

"Menjadi semakin penting dan mendasar bagi kami untuk memiliki kendali nyata di setiap lapisan stack," kata Nadella saat bersaksi pada Senin (10/5) lalu.

Kekhawatiran Nadella mulai terbukti dalam empat tahun setelah surat elektronik tersebut. Nilai valuasi OpenAI bahkan telah melesat hingga USD 850 miliar.

Ekspansi OpenAI juga meluas melalui kemitraan dengan kompetitor utama seperti Google, Oracle, dan Amazon.

Dinamika ini mendesak Microsoft untuk segera mengamankan hak atas pengembangan model kecerdasan buatan secara mandiri.

>>> 1 Jam War Tiket Artist Presale, Konser Day 2 The Weeknd Nyaris Ludes