Presiden Xiaomi Lu Weibing memperingatkan bahwa harga ponsel flagship buatan China berpotensi menembus 10.000 yuan atau sekitar Rp22 juta pada paruh kedua 2026.

Lonjakan harga ini dipicu oleh kenaikan biaya produksi komponen memori yang membengkak hampir empat kali lipat sejak awal 2025.

>>> Profil Ansy Jan De Vries Model dan Muse yang Kritis Usai Jadi Korban Begal di Kebon Jeruk: Umur, Agama dan Akun Instagram

Konfigurasi memori 12GB RAM dan penyimpanan 512GB disebut menjadi penyebab utama kenaikan tersebut.

Produsen memori global seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron kini mengalihkan fokus produksi ke High Bandwidth Memory (HBM) untuk server kecerdasan buatan yang lebih menguntungkan.

Pengalihan pasokan ini menyebabkan kelangkaan komponen LPDDR dan NAND flash untuk ponsel.

Firma riset IDC memproyeksikan penurunan pengiriman ponsel global sebesar 12,9 persen pada 2026.

Kenaikan harga komponen telah berdampak pada lini produk Redmi K90 Pro Max dan seri Turbo 5 pada April 2026.

OPPO, OnePlus, Vivo, iQOO, dan Honor juga dilaporkan telah menyesuaikan harga produk mereka.

Lu Weibing sempat membandingkan harga ponsel lokal dengan iPhone.

"Kenapa beli iPhone yang mahal kalau HP lokal lebih cepat, punya kamera lebih baik, dan harganya 30% lebih murah?"

ujarnya.

Manajemen Xiaomi mengonfirmasi bahwa harga final untuk Xiaomi 17 Max masih belum ditentukan karena volatilitas biaya rantai pasok semikonduktor global.

>>> Ancaman Deepfake dan Phishing AI Makin Nyata, Perbankan Diminta Waspada

Hasil tersebut tidak hanya penting dari sisi skor, tetapi juga berpengaruh terhadap posisi, kepercayaan diri, dan evaluasi tim.

Performa pemain kunci menjadi salah satu catatan yang dapat menentukan arah tim pada pertandingan berikutnya.