Industri smartphone Android kembali menghadapi tekanan baru. Kabar terbaru menyebutkan bahwa biaya chipset generasi terbaru Qualcomm mengalami lonjakan signifikan.

Qualcomm dilaporkan akan mematok harga di atas US$300 atau sekitar Rp5,2 juta untuk chipset andalan masa depannya, Snapdragon 8 Elite Gen 6.

>>> Xiaomi Batalkan Smartphone Ultra Tipis 5,5 mm, Beralih ke 17 Max

Kenaikan ini diproyeksikan mendongkrak harga ponsel premium secara drastis pada paruh kedua 2026 hingga awal 2027.

Keputusan strategis ini diambil demi memaksimalkan margin di tengah kompetisi ketat dengan Apple, MediaTek, dan Google.

Tren kenaikan biaya komponen tersebut tercermin dalam perbandingan harga antar-generasi chipset Qualcomm dalam beberapa tahun terakhir.

Faktor Pemicu Lonjakan Biaya Semikonduktor

Sejumlah aspek teknis dan kondisi ekonomi mendorong kenaikan harga komponen ini secara global.

Investasi miliaran dolar untuk pengembangan teknologi 2 nm membuat Qualcomm harus mengamortisasi biaya R&D melalui harga jual produk yang lebih tinggi.

Persaingan ketat dengan kompetitor juga memaksa Qualcomm meningkatkan standar produk agar tetap relevan.

Apple kini mengandalkan chip A18 Bionic yang efisien, sedangkan Google Tensor G5 menawarkan kemampuan AI lokal canggih.

Langkah antisipasi diwujudkan melalui integrasi AI On-Device yang lebih masif pada Snapdragon 8 Gen 6.

Chipset ini dibekali NPU generasi ke-8 dengan kemampuan inferensi AI mencapai 70 TOPS, meningkat pesat dari Gen 5 yang berada di angka 45 TOPS.

Komponen NPU baru tersebut dibutuhkan untuk menjalankan asisten suara offline, pemrosesan kamera real-time, dan gaming berbasis AI. Namun, penambahan teknologi canggih ini berdampak langsung pada melambungnya biaya produksi.

Keterbatasan kapasitas produksi turut memperparah keadaan akibat kelangkaan pasokan fabrikasi 2 nm. Saat ini, hanya segelintir foundry seperti TSMC dan Samsung Foundry yang sanggup memproduksi chip berteknologi tersebut.